Showing posts with label Cerita Sedih. Show all posts
Showing posts with label Cerita Sedih. Show all posts

- Selamat Jalan “The Champion”

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Wajah tirus Hani dengan kepala tak berambut sedikit bergerak. Mata cekung, dulu jenaka yang menyimpan banya keceriaan dan keoptimistisan, kini ia memandangku dan mengerjap dengan layu . Seakan-akan ada yang ingin diungkapkannya. Kuhampiri badan yang lemah itu, dan kugenggam tangannya.

"Ada apa, Han..?"

Suara tilawah Al Alquran Mama terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang diminta Hani.

"Kenapa, sayang..? Ada yang sakit?." Tanya mama dengan bunyi parau.

Sudah sekian hari, Mama memang banyak menangis untuk Hani. Di tiap-tiap malamnnya, Mama mengucurkan air mata, memohon kepada Allah, untuk mau mendengar "bargaining" di dalam doa-doa Mama. Agar Allah mau mengulur waktu untuk Hani hingga beberapa waktu saja. Mulut Hani bergerak-gerak, kudekatkan telingaku pada wajahnya, biar sanggup menangkap apa yang diungkapkannya.

"Asy..ha..du alla..."

Tiba-tiba saya menyadari "waktu itu" sudah dekat. Ku menoleh pada Mama, ia ibarat mengerti. Lalu Mama bergegas menuju pintu, memanggil Papa, dan Aria, adik iparku. Dua orang laki-laki, yang akan kehilangan orang yang dicintai itu, segera masuk dan menanti apa yang terjadi kemudian. Kupakaikan kerudung putih pada kepala tanpa rambut yang melemah itu. Kulakukan ini lantaran pesan terakhir Hani, jikalau "saatnya" tiba ia tidak mau dalam keadaan "telanjang" menghadap Allah. Papa tampak ikhlash, begitu juga Aria. Lalu Aria menyerahkan Umar, keponakanku yang belum genap satu tahun usianya, kepadaku.

"Tolong, Mbak..Biar saya yang menjaga dik Hani."

Umar tetap tertidur pulas, walaupun posisi gendongan berpindah, ia tidak terbangun sedikit pun. Bocah kecil sebelas bulan ini tak menyadari, bahwa sebentar lagi, ibunya akan segera meninggalkannya. Dokter Ruslan bergegas masuk untuk melaksanakan tugasnya sebagai dokter.

"Biarlah, dokter..Insya Allah Kami sudah ikhlash..". Suara tegar Papa berkata.

Dokter Ruslan mengangguk seraya berkata,

"Mudah-mudahan anak bapak diberi fasilitas oleh Allah.."

Perlahan-lahan, Aria membantu Hani membacakan syahadah di indera pendengaran Hani. Kemudian verbal Hani bergerak-gerak dengan mudah. Dan genggaman tangannya tampak mulai melemah. Ada butiran air mata yang bergulir dari matanya yang terpejam.

"Sakitkah adikku, sayang?", batinku dengan penglihatan kabur lantaran terhalang airmata. Aku menatap wajah Hani yang sedang bertarung melepas nyawa.

Nafas Hani satu-satu, jaraknya makin usang makin panjang. Papa dan Mama membaca syahadah berkali-kali. Dan risikonya nafas Hani pun terhenti...

"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun..."

*****

Hanifah, adikku, Hani begitulah ia dipanggil. Umurnya berbeda 4 tahun dariku. Tapi Hani, perawakannya yang tinggi, lagaknya yang tomboy serta rambutnya yang berpotongan pendek, menciptakan orang-orang sering salah terka. Mereka menerka Hani, cowok, jikalau melihatnya sepintas dari belakang. Aku teringat, teman-teman pemuda sekampus meledekku ketika saya mengajak Hani hadir ke Baksos Mesjid kampus.

Mereka, yang relatif tahu saya yaitu " Si jilbab galak", meledekku,

"Wah kemajuan nih, Adelina...Ternyata berani juga mengajak cowoknya ke kampus.."

Mendengar itu saya geli, tapi tidak demikian dengan Hani.

"Siapa yang berani ganggu Mbak Adelina?". Tanya Hani berbalik sewot menghadapi teman-teman cowokku yang iseng tadi.

Seketika mereka terpana, menyaksikan bahwa "cowok" Adelina yaitu cewek bagus yang tak kalah galak dari kakaknya.

Itulah Hanifah. Siapa pun 5 tahun lalu, tak akan menerka ia akan menggunakan jilbab. Hani menikah di usia muda, bahkan memiliki anak.

Kami 3 bersaudara, Mas Ardi, aku, dan si bontot Hanifah. Karena pendidikan orang tuaku yang demokratis dan bijaksana, kami bersaudara sangat rukun dan saling sayang satu sama lain. Dan lebih dari itu, kami saling menghipnotis satu sama lain. Ketika Mas Ardi harus kuliah di Bandung, saya dan Hani menangis, lantaran kehilangan "bodyguard" yang selalu mengantar kami kemana-mana. Hani memaksaku, biar tak ikut-ikutan pilih universitas yang harus meninggalkan rumah ibarat Mas Ardi.

Setiap pulang, Mas Ardi selalu membawa banyak perubahan. Tahun pertama ketika saya SMA, Mas Ardi masih suka merokok di sela-sela menggambar kiprah arsiteknya. Namun sesudah itu, Mas Ardi lambat laun menghilangkan kebiasaan merokonya. Setiap pulang semesteran Mas Ardi banyak membawa majalah-majalah dan buku-buku Islam. Mas Ardi mulai mengajak kami, adik-adiknya, shalat berjamaah dan membaca Al Alquran bersama di rumah. Alhamdulillah, pada ketika itu saya berhasil masuk FE UI, sehingga tak perlu meninggalkan rumah ibarat Mas Ardi. Setelah menjadi mahasiswi juga mungkin efek yang berpengaruh dari Mas Ardi, saya mulai mengenal Islam. Aku mulai mencari-cari untuk apa bergotong-royong saya hidup. Dan, Alhamdulillah, saya menemukannya dalam acara keislaman yang saya ikuti di kampus.

Namun yang saya heran, efek tersebut tak mengenai Hani sama sekali. Hani tetap saja tomboy, dan malas jikalau saya ajak pergi ke pengajian. Walaupun demikian, Hani yaitu adik kebanggaanku. Di antara lagaknya yang tomboy dan sikapnya yang manja di rumah Hani yaitu juara kelas di sekolahnya, dan kapten di grup basketnya. Sifatnya yang tak ingin kalah dari orang lain, dan serius ketika menekuni sesuatu, menciptakan ia sanggup menjadi sukses dalam bidang yang disenanginya, ibarat pelajaran atau basket.

Aku masih ingat, ketika untuk pertama kalinya ia harus menerima rangking ketiga di kelasnya. Hani menangis di kamar seharian. Tapi, yang ini juga sifat Hani yang membanggakan, Hani cepat bangun dari keterpurukan. Dengan menyetel kaset grup Queen idolanya, yang berisikan lagu we are the champion, Hani membangunkan semangatnya sendiri, dan ia sanggup ceria lagi keesokan harinya.

Hingga pada suatu hari, Hani menemukan hidayah itu... Di balik kegagahan dan ketomboyannya, saya tahu ada sebongkah hati yang tulus dan lembut. Dan itu terbukti ketika saya mengikutsertakan Hani ke kegiatan baksos di kampus untuk ketiga kalinya. Kala itu ia kelas 3 SMA. Hani masih tetap dengan rambut cepak, kaus t-shirt putih, dan celana jeans hitam kebangsaannya. Di baksos itu kami memang mengumpulkan baju-baju bekas untuk kaum tak punya. Hani memang punya banyak baju yang sudah tak dipakainya. Tapi sayang, baju-bajunya selalu dikelompokkan untuk bocah laki-laki.

Beberapa jilbab dan baju muslimah ku sisihkan khusus.

"Untuk siapa, Mbak..?" . Tanya Hani

"Ini untuk Mbok Siyem, yang jualan rokok di depan mesjid. Katanya anaknya yang Sekolah Menengah Pertama juga pakai jilbab.". Terangku

"Oooo.."Hani membundarkan mulutnya.

Baksos belum mulai ketika saya dan Hani tiba di depan mesjid kampus. Karena masih ada waktu saya bergegas menemui Mbok Siyem yang selalu mangkal di erat masjid. Tapi saya terkejut ketika saya tak menemui Mbok Siyem ibarat biasa. Hanya Ijah, anaknya, yang menunggui warung.

"Lo, Mbok Siyem kemana..?"Tanyaku pada Ijah.

Ijah, bocah kecil kelas dua Sekolah Menengah Pertama itu, menjawab,"Mbok sedang sakit. Dari kemarin muntah-muntah." Ijah tak tampak sedih, malah tampak biasa saja.

"Ini Mbak bawakan baju buat Ijah, kemarin-kemarin si Mbok wanti-wanti meminta untuk membawakannya untukmu." Wajah Ijah yang tadi tampak biasa-biasa saja, kini tampak haru. Ijah menangis.

"Mbok bilang, kalau Ijah sabar dan ikhlash dengan dua baju, niscaya Allah akan memperlihatkan lebih. Dan ternyata benar..." Katanya terisak, mengusap ingus yang keluar dengan jilbab coklatnya, yang ku ingat yaitu pemberianku setahun lalu.

Setelah baksos selesai, kami menjenguk Mbok Siyem, yang bukan kepalang terkejut dengan kedatangan kami. Waktu itu Mbok Siyem kelihatan sehat, tak ibarat orang sakit. Walau beberapa hari sesudah itu Mbok Siyem meninggal dunia..

Peristiwa itu rupanya terpatri dalam di kalbu Hani. Sejak hari itu, Hani segera menggunakan kerudung. Tak ada yang menyuruh,tak ada yang meminta. Sehingga Mama melongo, melihat bontotnya menjadi feminin seketika. Lalu siapa yang sangka Hani menjadi akhwat ibarat sekarang? Dulu ia memang bahagia basket, hingga poster Michael Jordan memenuhi tembok kamarnya. Dulu ia memang bahagia Queen, hingga tak ada lagu-lagunya yang tak dihapalnya. Tapi beberapa bulan sesudah mengaji, Hani melepas semua poster-poster tersebut, dan mendepak kaset-kaset lagu hingar bingar itu. Walau saya tahu, Hani menangis semalaman untuk berpisah dengan segala hobi dan kesenangannya. Tapi itulah Hani, esok selalu disambutnya dengan penuh semangat menantang dan keoptimisan.

Dan perkembangannya yang luar biasa sesudah aktif mengaji, sering menciptakan saya dan Mas Ardi terharu. Sampai puncaknya ijab kabul Hani 4 tahun lalu...Papa marah, Mama kesal, lantaran Hani dianggap mendahului saya dan Mas Ardi. Apalagi Hani masih 19 tahun dan masih tingkat dua...! Namun Alhamdulillah berkat diplomasiku dan Mas Ardi, bahwa kami rela didahului, risikonya Hani melangsungkan pernikahannya.

Hani, kehidupannya menggapai hidayah ibarat berlari. Bahkan ketika Allah memilih ia harus menderita leukimia di usia 21 tahun. Kegalauan keluarga kami untuk memberitahukan Hani atau tidak, bahwa sakit-sakit tulang yang sering Hani keluhkan bukanlah sakit biasa. Kesedihan kami yang luar biasa, lantaran mengetahui Hani tak akan usang bersama kami lagi, mengingat dokter sendiri berkata belum ada penyembuhan yang jitu untuk penyakit kanker yang satu ini.

Sehingga risikonya keluarga kami bertekad untuk mengungkapkan secara jujur penyakit Hani. Ini pun lantaran ada lantaran yang luar biasa. Hani ternyata hamil 4 bulan waktu itu. Aria tiba memberitakan kabar gembira yang timingnya jelek itu kepada keluarga kami. Kami tak tahu, apakah harus menyambut kabar ini dengan bahagia atau bersedih. Karena melahirkan anak yaitu hal yang tak mungkin bagi Hani, lantaran akan memperlemah kondisi Hani. Namun, ketika itu tak ada yang sanggup menyetop Hani. Bahkan ketika kami memberitahukan bahwa hamil dan melahirkan kemungkinan besar akan mempertaruhkan nyawanya. Hani bersikeras untuk hamil dan melahirkan.

"Mama juga waktu hamil kami bertiga tak pernah memikirkan keselamatan nyawa Mama sendiri bukan..? Ayolah, Ma.. Jangan larang Hani, tapi bantu Hani dengan doa, biar Hani diberi kekuatan dan kesehatan oleh Allah. Dan jikalau harus meninggal pun, Hani meninggal dalam keadaan syuhada bukan..? Tapi Ma, Pa, Hani ingin hidup, paling tidak hingga anak ini lahir.."

Dan Allah memang Maha Besar dan Maha Pengasih. Semangat dan keoptimisan Hani memberi bekas yang dalam kepada orang di sekelilingnya. Sejak kehamilan Hani, Mama dan Papa menjadi lebih banyak beribadah. Mama menggunakan jilbab, banyak membaca Al Quran. Begitu pula Papa, setiap Senin dan Kamis tak ada yang terlewat dengan shaum, juga tahajud. Bahkan saya pun menikah ketika Hani sedang rawat intensif di rumah sakit. Hani selalu berkata, ingin melihatku
menjadi mempelai sebelum ia menutup mata.

Dan Allah menjawab semua doa-doa dan keinginan kami. Hani sanggup melahirkan Umar dengan selamat, layaknya orang normal. Walau untuk itu Hani menghabiskan hampir seluruh waktunya di rumah sakit, dan kami selalu dibentuk cemas akan keselamatan Hani sendiri.

Ya, dua tahun Hani berperang melawan leukimia. Tapi tak pernah terungkap dalam ucapannya, bahwa ia meratapi nasibnya lantaran harus menderita penyakit ini. Bahkan ia kerap berujar,

"Allah sayang kepada Hani, ya, Mbak...Sehingga Allah memberi batas waktu
yang terang untuk Hani beraktifitas di dunia ini. Agar tak sia-sia..."

Ah, Hani sayang....

**************

Pekuburan sudah sepi, gundukan tanah merah di depanku mulai dibasahi oleh gerimis kecil yang turun satu-persatu. Kulihat aba-aba lambaian tangan Mas Ardi yang berada di rombongan Mama, Papa, serta keluarga Aria mengajakku untuk pulang. Bang Irsyad, suamiku memperlihatkan tangannya.

"Insya Allah Hani syahidah, De...Karena Hani begitu pasrah dan tawakal kepada Allah dengan penyakitnya."Hiburnya. Aku mengangguk.

Di tanganku ada setumpuk amplop yang ditujukan pada Umar. Surat dari Ibunya. Aku teringat percakapan kami 5 bulanan lalu.

"Ini sebagai hadiah buat Umar setiap umurnya bertambah satu tahun, Mbak... Aku persiapkan 15 surat, untuk Umar. Agar Umar selalu menerima nasehat dariku walaupun saya sudah tak sanggup menyaksikan Umar tumbuh hingga ia baligh dan mengerti. Aku titipkan pada Mbak Ade, ya..?". Hani menyerahkan tumpukan amplop itu padaku.
"Kenapa tak kamu titipkan pada Aria, bukankah ia yang lebih berhak...?" Hani
tersenyum.

"Mas Aria harus mencari pengganti Hani untuk mendidik Umar, bukan..? Tentu tidak bijak kalau Mas Aria mengingat Hani terus, dan melupakan hal yang satu itu". Katanya diluar dugaan. Lalu,

"Mbak..., saya ingin Umar memiliki sifat adonan dari kita bertiga. Perhatian ibarat Mas Ardi, tegas dan lembut ibarat Mbak Ade, enerjik dan jenaka ibarat ibunya..."

"Laa..Aria bagaimana, dong..?"tanyaku menahan geli...

"Iya ditambah ganteng dan shaleh ibarat bapaknya.."tawanya jenaka.

Mataku kembali basah. Di detik-detik terakhir kehidupannya, Hani tak pernah menampakkan keputus asaan. Dia tetap optimis, bahwa Allah memberikannya penyakit sebagai ujian, maka ia harus lulus, dan bertawakal untuk jadi pemenangnya. Ya...Juara itu telah pergi, Syuhadah itu telah pergi, pergi tanpa beban dan tanpa keputus asaan. Pergi meninggalkan sebongkah kesan dan bekas cinta yang mendalam.

Selamat jalan the champion...

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya lantaran telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi lapang dada menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Sepasang Mata Untuk Sahabatku

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

“Persahabatan bukan hanya sekedar kata, yang ditulis pada sehelai kertas tak bermakna, tapi persahabatan merupakan sebuah ikatan suci, yang ditoreh diatas dua hati, ditulis dengan tinta kasih sayang dan suatu ketika akan dihapus dengan tetesan darah dan mungkin nyawa”

“Key…sini dech cepetan, saya ada sesuatu buat kamu”, panggil Nayra suatu sore. “Iya, sebentar, sabar dikit kenapa sich?, kau kan tahu saya gak bisa melihat”, jawab seorang gadis yang dipanggil Key dari balik pintu.

Keynaya Wulandari, begitulah nama gadis tadi, meskipun lahir dengan keterbatasan fisik, dia tidak pernah mengeluh, semangatnya menjalani perahu hidup tak pernah padam. Lahir dengan kondisi buta, tidak membuatnya berkecil hati, secara fisik matanya tidak bisa melihat warna-warni dunia, tapi mata hatinya bisa melihat jauh ke dalam kehidupan seseorang. Mempunyai hoby melukis semenjak kecil, dengan keterbatasannya, Key selalu mengasah bakatnya. Tak pernah sedikitpun dia menyerah.

Duduk di kursi kelas XII di sebuah sekolah Luar Biasa di kotanya, Keynaya tidak pernah bolos meraih peringkat dikelas, bahkan guru-gurunya termotivasi dengan sifat pantang mengalah Key. Sejak gres berusia 3 tahun, Keynaya sudah akrab dengan anak tetangganya yang berjulukan Nayra Amrita, Nayra anak seorang administrator bank swasta di kota mereka. Nayra cantik, pinter dan secara fisik Nayra kelihatan sempurna.

Seperti sore ini, Nayra sudah nangkring di rumah Key. Dia berbincang-bincang dengan Key, sambil menemani sahabatnya itu melukis. “Key, lukisan kau bagus banget, nanti kau ngadain bazar tunggal ya, biar semua orang tahu talenta kamu”, kata Nayra membuka pembicaraan. “Hah”, Key mendesah pelan kemudian mulai bicara, “Seandainya saya bisa Nay, niscaya sudah saya lakukan, tapi apa daya, saya ini tidak sempurna, seandainya saya menerima donor kornea, dan saya bisa melihat, mungkin saya senang dan akan mengadakan bazar lukisan-lukisanku ini” ucap Keynaya dengan kepedihan.

“Suatu hari nanti Tuhan akan memperlihatkan anugrahnya kepadamu, sahabat, niscaya akan ada yang mendonorkan korneanya untuk seorang anak sebaik kamu,” timpal Nayra akhirnya. Berbeda secara fisik, tidak pernah menjadi halangan di dalam jalinan persahabatan antara Nayra dan Keynaya, kemana pun Nayra pergi, dia selalu mengajak Key, kecuali sekolah tentunya, lantaran sekolah mereka berdua kan berbeda. Sedang asik-asiknya dua sobat ini bersenda gurau, tiba-tiba saja Nayra mengeluh, “aduuh, kepala ku”

“Kamu kenapa Nay, sakit??” tanya Keynaya. “Oh, tidak saya tidak apa-apa Key, Cuma sedikit pusing saja”, ucap Nayra sambil tersenyum. “Minum obat ya Nay, saya tidak mau kau kenapa-napa, nada bicara Key terdengar begitu khawatir. “aku ijin pulang dulu ya Key, mau minum obat” ujar Nayra sambil berpamitan pulang.

Di kamarnya yang terkesan sangat elegan, nuansa coklat mendominasi di setiap sudut ruangan, Nayra terduduk lemas di atas ranjangnya, “Ya Allah, berapa usang lagi usiaku di dunia ini?? Berapa usang lagi malaikatmu akan menjemputku untuk menghadapmu?” erang hati Nayra. Di vonis menderita leukimia semenjak 7 bulan kemudian dan tidak akan berumur usang lagi sungguh menyakitkan bagi Nayra, usianya yang gres 18 tahun, dengan segudang impian yang dia inginkan, sudah niscaya tak satupun akan terwujud.

Pintu kamar Nayra tiba-tiba terbuka, seorang perempuan manis paruh baya masuk kemudian duduk disampingnya. “Gimana rasanya sayang? Masih tidak enak?? Kita ke dokter kini yuk!!!” ujar perempuan itu dengan lembutnya. “tidak usah, ma, saya sudah enakan kok, saya cuma mau beristirahat saja”, jawab Nayra dengan sopan. “ya sudah jikalau begitu, mama tinggal dulu ya, istirahat ya, Nak,” ujar sang mama sambil mencium kening putri semata wayangnya. “Makasih ma, saya selalu sayang mama,” lirih Nayra berujar. Terus terang Nayra sudah tidak berpengaruh menahan rasa sakitnya, tapi dia berusaha menyembunyikan itu dari orang tuanya.

Di ruang keluarga, ibu Rita, duduk sambil menemani sang suami sepulangnya dari kantor, “Ma, Nayra kemana?? Kok papa tidak melihatnya dari tadi?” tanya sang suami. “Nayra lagi istirahat pa, dia pusing dan mengeluh sakit dari tadi”, jawab Rita. “Sakit apa bergotong-royong anak kita ma?? Kalau kita ajak ke dokter dia selalu menolak, papa rasa ada yang dia sembunyikan dari kita, saya takut penyakitnya parah,” dengan nada khawatir pak Artawan bicara dengan istrinya. “entahlah pa, mama juga bingung” ujar istrinya lagi.

Ternyata sakit yang dirasakan Nayra sore itu yaitu menerangkan dia akan segera di panggil menghadap Tuhan, ketika minta ijin untuk istirahat pada mamanya, kesehatan Nayra benar-benar drop, dengan panik kedua orang renta Nayra melarikan putrinya ke rumah sakit, sehabis menerima penanganan oleh tim dokter, Nayra sedikit terlihat tenang, namun mukanya terlihat pucat, sinar matanya terlihat begitu redup. “Pak Artawan, bisa kita bicara sebentar di ruangan saya”, kata dokter Gunawan, yang juga merupakan dokter langsung keluarga Artawan. “Baiklah dok, “ sambut pa Artawan.

Setelah pak Artawan dan ibu Rita duduk di ruangan dokter Gunawan, mereka kesannya mulai bicara, “Maafkan saya sebelumnya pak, bergotong-royong saya sudah tahu penyakit yang diderita putri bapak semenjak 7 bulan lalu, tapi lantaran putri bapak menyuruh saya merahasiakan penyakitnya kepada bapak dan ibu, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Putri bapak terkena leukimia,” ujar dokter Gunawan lirih.

Cukup lirih memang kata-kata dokter Gunawan, tapi bisa menciptakan jantung pak Artawan dan istrinya berdetak lebih cepat dari biasanya, “Apa?? Leukemia? Separah apa dok??” keras nada bunyi pak Artawan. “sudah parah pak, umur Nayra tidak akan lama” sambung dokter kembali.

Setelah berbicara usang dengan dokter, air mata tak pernah berhenti mengalir di pipi Rita. Dia begitu terpukul mendengar putrinya menderita penyakit itu. “udah, ma, jangan nangis terus, pengobatan Nayra akan diusahakan, kita akan mengusahakan kesembuhannya, lebih baik kita berdoa, semoga Tuhan memperlihatkan jalan terbaik buat keluarga kita”, hibur pak Artawan. “mari kita tengok Nayra!!” ajaknya lagi.

Memasuki ruangan perawatan, ibu Rita berusaha menyembunyikan air matanya, dia tersenyum penuh kepedihan di samping ranjang putrinya, “Mama, kenapa? Kok sedih begitu?” ujar Nayra lirih. “tidak apa-apa sayang”, berbisik ibu Rita tak kuasa menahan air matanya. “Maafkan Nayra, Ma, Pa, Nayra tak bermaksud menciptakan Mama dan Papa terluka menyerupai ini, Nayra hanya tak ingin menyusahkan kalian” Nayra berkata dengan terbata-bata.

Belum ada beberapa menit pak Artawan dan ibu Rita di kamar putrinya, tiba-tiba Nayra kejang-kejang. Dengan panik pak Artawan memanggil dokter Gunawan. Dokter Gunawan menangani Nayra tidak mengecewakan lama, hingga kesannya dokter Gunawan keluar, muka dia kelihatan sangat sedih. “Bagaimana anak saya, dok?” tanya pak Artawan.

“Maaf pak, kami disini sudah berusaha yang terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain, Nayra sudah dipanggil menghadapNya” ucap dokter. “Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaakkk”, teriak ibu Rita isteris, “Nayra mustahil meninggal, Nayra masih hidup,” seluruh pengunjung rumah sakit menoleh ke arah mereka. “Pak, sebelum meninggal, Nayra menitipkan ini ke saya, ini buat bapak dan ibu” imbuh dokter Gunawan sebelum mohon diri.

Sepeninggal Dokter Gunawan, pak Artawan dan istrinya membuka amplop kecil dari Nayra, isinya ternyata surat.

“Mama, papa, maafin Nayra sudah menciptakan mama dan papa jadi sedih, Nayra mohon sama mama dan papa, sehabis Nayra meninggal, tolong berikan kornea mata Nay untuk Keynaya, tapi jangan bilang itu dari Nayra sebelum Keynaya benar-benar operasi dan bisa melihat lagi, dan satu lagi, mama tolong kasih Keynaya surat yang Nayra simpan di laci meja berguru Nayra yang amplopnya berwarna pink sehabis Keynaya melihat nanti, dan surat buat mama dan papa ada di dalam amplop biru di laci yang sama.

Sekian dulu Mama, papa, maaf jikalau Nayra selalu ngerepotin kalian, Nayra sayang kalian, big kis & hug..muacch”

- Nayra Amrita -

Selain sepucuk surat itu, ada lagi sebuah surat pernyataan pendonoran kornea mata yang telah lengkap dengan tanda tangan Nayra. Hati orang renta Nayra tersayat, tapi tak ada yang bisa mereka lakukan selain memenuhi usul terakhir sang anak.

Sementara itu, di rumah Keynaya, tampak gadis manis itu tengah duduk seorang diri di teras rumahnya. Wajahnya tampak sedikit murung, “kemana si Nayra, sudah lebih dari 5 hari dia tidak main ke sini, apa dia baik-baik saja?” gumamnya.

“Ma, Nayra pernah kesini gak dalam beberapa hari ini?” tanya Keynaya ke pada mamanya.

“Tidak ada, Key, memang kenapa?” tanya sang mama.

“Gak apa-apa ma, saya ke rumah Nayra sebentar ya!!” Key meminta ijin ke mamanya.

Tapi diluar dugaan, mama Keynaya melarangnya pergi. “Jangan Key, kita harus ke rumah sakit kini juga, tadi mama ditelepon sama pihak rumah sakit, katanya ada yang menyumbangkan korneanya khusus untuk kamu,” dengan tutur kata yang lembut mamanya menjelaskan. “Yang bener, Ma? Key sudah sanggup donor kornea?? Asik-asik, Key akan segera bisa melihat wajah Nayra, Key bisa segera menggelar bazar lukisan,” ucap Key berapi-api.

“Iya nak” jawab mamanya penuh kepedihan. “seandainya kau tahu sayang, Nayra tak mungkin ada disamping kau lagi, Nayra sudah damai dialam sana, dan seandainya kau tahu siapa orang yang mendonorkan korneanya untuk kamu” kata ibu Rasti dalam hati.

Waktu berjalan begitu cepat, operasi cangkok kornea sudah dilaksanakan dan kini yaitu hari yang paling ditunggu-tunggu Keynaya, perban di matanya akan di buka, tim dokter beserta kedua orang renta Key sudah ada di ruangan Key. Sebelum perbannya di buka, Keynaya berujar, “Ma, Pa, Nayra sudah datang?? Ku ingin sekali ada Nayra di sini pas saya bisa melihat” “belum sayang, Nayra masih diluar kota” pedih rasanya hati ibu Rasti ketika berujar.

Perban kesannya di buka, kurang jelas penglihatan Keynaya mulai melihat warna, melihat sosok kedua orang tuanya, dia tersenyum, semakin usang semakin jelas, “Mama, papa saya bisa melihat kalian,” bangga sekali bunyi Keynaya.

Sudah 1 ahad semenjak Keynaya bisa melihat, hari ini dia memaksa ibunya biar diperbolehkan melihat Nayra, mengujungi Nayra, “Kata mama Nayra sudah ada di rumah, berarti Key boleh main donk Ma, Key pingin ngajak Nayra jalan-jalan buat merayakan kesembuhan Key,” “Iya, nak, mama sama papa temenin kau ya!!”

Berbeda beberapa rumah antara Nayra dan Keynaya merupakan hal yang membahagiakan, tidak perlu capek-capek bermacet- macet ria di jalanan untuk mengunjunginya. Sesampai di rumah Nayra mereka disambut ramah oleh keluarga Nayra yang kebetulan lagi ada di rumah.

“Selamat sore tante Rita’” sapa Keynaya dengan senyum sumringah. Setelah di persilahkan duduk dan menikmati hidangan ala kadarnya, Keynaya menanyakan keberadaan sobat karibnya, “mana Nayranya tante?? Kok tidak kelihatan ada di rumah?”

“Nayranya…Nayra..Nayra” dengan terbata-bata ibu Rita menjawab.

“Nayra kenapa tante, kemana?? Nayra tidak apa-apa kan?” bertubi-tubi Keynaya bertanya.

Ibu Rita tak kuasa menjawab, dia meninggalkan tamunya di ruang tamu dan berlari naik ke kamar Nayra, mengambil sepucuk surat yang dititipkan Nayra untuk Keynaya. Ibu Rita kembali ke ruang tamu dengan sepucuk surat di tangan, “ini dari Nayra untuk kamu” ungkapnya berlinang air mata kepada Keynaya.

Dengan tangan gemetar Keynaya membuka amplop berwarna pink yang manis itu, ada pita pink juga di sudut amplonya.

Dear Keynaya ..

“Keynaya sayang, sahabatku yang paling baik, apa kabar hari ini?? Baik-baik sajakah?? Sehat-sehat?? Semoga sehat ya!! Key, ketika kau membaca surat dari saya ini, mungkin saya sudah tak ada lagi di dunia ini, tak ada di samping kamu, tak bisa menemani kau bermain, bercanda dan tertawa, maafkan saya ya Key.

Key sayang, bergotong-royong saya ingin sekali kisah ke kau perihal penyakitku, tapi saya takut menciptakan kau kepikiran terus, takut buat kau gelisah. Sebenarnya saya terkena penyakit leukemia, Key dan umurku tidak akan usang lagi.

Key sayang, meskipun saya telah pergi dari sisi kamu, tapi rasa sayang saya ke kau tak akan pernah berubah, kau sobat terbaik di hidupku, kau tempatku berkeluh kesah, tempatku menumpahkan suka dan duka. Key, ku tahu ketika kau membaca ini, kau sudah bisa melihat indahnya dunia, sengaja ku berikan mataku untuk kau Key, hanya itu yang bisa saya berikan, jaga mata itu menyerupai kau menjaga persahabatan kita.

Segitu dulu Key, maafkan saya lantaran harus pergi meninggalkanmu, terima kasih lantaran sudah memperlihatkan saya arti selama hidup di dunia. Sampai ketemu suatu ketika nanti Key, saya sayang kau sahabatku.

Kiss and big hug my lovely friend, my best friend in my life….muaaachh…

Dariku yang selalu menyayangimu ..

- Nayra Amrita -

Air mata mengalir deras di pipi Keynaya, “ini tidak mungkin” katanya lirih. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia benar-benar tak percaya, sahabatnya sudah kembali ke pangkuan Tuhan, Keynaya menatap selembar foto yang juga ada di dalam amplop surat tadi, foto Nayra tersenyum manis ke arahnya, mata Nayra yang teduh, kini ada padanya. Keynaya meminta biar kedua orang renta Nayra mengantarnya ke kuburan.

Lumayan jauh dari rumah Nayra, kaki Keynaya lemah, tapi dia berusaha mengikuti langkah kaki orang tuanya dan orang renta Nayra ke sebuah makan yang begitu tertata rapi, taburan bunga masih segar, tanah pekuburannya juga masih basah.

Sebuah Nisan yang begitu manis dihadapan Keynaya, membuatnya semakin terluka, terang tersurat di watu nisan berwarna putih itu nama sobat karibnya

“Nayra Amrita Artawan”
Lahir 8 Januari 1994
Wafat 14 April 2011

Berjongkok Keynaya membelai nisan itu, gerimis turun membasahi nisan, semakin usang semakin deras, sederas airmata yang jatuh di pipi Keynaya, “kenapa secepat ini kau tinggalkan aku, Nay?? Tega kamu?? Meninggalkan saya seorang diri disini.” Nayra, terima kasih sayang, kau telah memperlihatkan saya sepasang mata untuk melihat dunia ini, terima kasih lantaran sudah mengajariku perihal ketulusan sebuah persahabatan, terima kasih atas senyum termanis yang pernah kau hadirkan di hidupku” ucap Keynaya sambil terisak lirih di atas nisan.

Tangan lembut ibu Rasti terulur ke arah putrinya, “Bangun Key, sudah, ikhlaskan saja Nayra, dia sudah damai di sana, dia sudah berada di pangkuan Tuhan, yang harus kau tahu, Nayra tak pernah ingin kau cengeng, kau harus tetap semangat menjalani hidup kamu,” bimbing ibu Rasti. “iya ma, terima kasih, saya hanya sedih saja, tapi saya akad tidak akan cengeng lagi sehabis hari ini”, kata keynaya.

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya dikarenakan telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Jantung Ke Dua

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Cerita ini ialah kisah faktual dari sahabatnya sahabatku, yang tidak ingin disebutkan nama aslinya. Ia memintaku untuk menuliskan perjalanan cintanya dalam sebuah cerita. Semoga ini juga menjadi pembelajaran untuk kita semua dan sanggup memetik pesan yang tersirat dari sebuah peristiwa, walau pengalaman yang tiba dari orang lain.

Cinta ialah sesuatu yang lembut dan halus. Mencintai dan dicintai ialah harapan setiap orang, alasannya dengan saling mencintailah kebahagian itu akan tercipta. Mencintai tapi tak dicintai, ialah hal yang masuk akal alasannya cinta ialah perasaan yang tidak sanggup dipaksa. kebahagiaan tak akan terasa ada kalau terjalin dari keterpaksaan. Tapi, bagaimana kalau dua manusia saling mengasihi tetapi salah satunya tersakiti? Masihkah itu sanggup disebut dengan cinta? Silahkan anda temukan jawabannya dalam kisah cinta di bawah ini. "JANTUNG KE DUA"....selamat membaca....

Kisah cinta ini berawal ketika saya mengenalnya lewat memori hujan di sudut kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah pulang kerja, saya terdesak untuk mengikuti mata pelajaran komplemen di kampus. Tetapi naas, motor yang kukendarai dengan kecepatan tinggi jatuh terhempas di jalanan membuatku tak sadarkan diri. Entah bagaimana akhirnya, perempuan itu membawaku ke rumah sakit terdekat.

Tiga hari saya dirawat di sana, beliau lah yang menjagaku, alasannya saya sebatang kara di kota itu. Keluargaku ada di kota sebelah, orang tuaku orisinil warga Banjarmasin dan menetap di sana. Sementara, saya kuliah di Palangkaraya sebagai anak kost dan bekerja di Pall Mall sebagai kasir. Meskipun bekerjsama saya anak orang berada, tetapi saya lebih menentukan hidup mandiri. Kuliah dari hasil pekerjaanku sendiri serta pinjaman beasiswa yang kuterima dari Universitas Palangkaraya. Aku ingin jadi lelaki berdikari biar kelak sanggup berdiri tanpa bergantung pada orang lain, terutama pada orang tuaku sendiri.

"Lize" nama perempuan itu. Senyumnya menggetarkan jiwaku. Wajahnya cantik, secantik hatinya. Satu kata mulai terlahir dari hatiku yang mungkin terlalu cepat. Aku jatuh cinta padanya, ketika pertama kali melihatnya. Gadis bagus itu bernama, Lize Kristiani. Keturunan Chines yang memilik wajah oriental suku Dayak Palangka. Setelah kami saling berkenalan dan bertukar nomer hp saya sangat terkejut, ternyata beliau seorang mahasiswi yang satu kampus denganku. Kondisiku yang belum sembuh betul alasannya luka yang cukup serius membentur tulang kakiku masih terasa pedih kurasakan, membuatku harus dituntun hingga ke dalam mobil.
Lize, mengantarku hingga daerah saya kost ke jalan Krakatau. Mulai ketika itu, saya selalu merasa berhutang kecerdikan padanya.
Setiap hari, kami selalu pulang dan pergi ke kampus bersama. Pertemanan kami berakhir dengan berawalnya kisah cinta. Aku tak sanggup menghindari perasaan ini, semakin saya menjauh darinya, semakin hatiku sakit. Aku telah terpanah busur cintanya, walau sudah beberapa kali kupikirkan untuk menjauhinya, ternyata hanya menciptakan hatiku semakin terluka. Akhirnya, kuputuskan untuk kuteruskan saja cinta ini. Walau kutahu, saya telah salah menentukan tambatan hati. Aku seorang Muslim, dan beliau seorang Kristen.

Lize. Dia sangat mencintaiku, menyerupai itu pula cintaku padanya. Cinta ini lahir begitu saja tulus dari hati, hingga tak ada perempuan lain yang sanggup menggeser posisinya di hatiku. Sekian usang kebersamaanku dengannya, keluarganya pun turut merestui korelasi kami. Mereka juga tahu, kami dari agama yang berbeda. Sudah hampir empat tahun cinta kami terjalin, sudah lebih sepuluh kali saya membujuknya memeluk agama Islam. Tapi, sudah sepuluh kali juga tiap saya memintanya untuk meninggalkan agamanya, beliau malah menentukan untuk tetapkan jalinan cinta yang kami bina. Semua itu menciptakan saya sangat terpukul.

Pernah satu kali beliau tetapkan cinta, kemudian meninggalkanku seminggu ke Jakarta, hatiku sungguh sangat terluka. "Padahal hanya seminggu" Aku, menyerupai orang asing yang terlihat normal. Tak ada satu orang pun yang sanggup membuatku tersenyum. Teman-temanku yang berusaha menghiburku dengan menghadirkan perempuan lain di hadapanku juga tak ada gunanya. Baru kusadari cintaku pada Lize bukanlah cinta biasa.
Aku, kembali mencicipi butir-butir kebahagiaan sehabis ia ada di hadapanku, tiba membawakan segelas lemon tea dan nasi rawon kesukaanku. Dia tahu, saya selalu telat makan. Lize menyuapiku tanpa bicara sepatah kata pun. Airmata mengalir di pipiku meruntuhkan derajat kelelakianku, tapi saya tak peduli itu. Aku pun memeluknya dengan sangat erat dan meminta maaf padanya.

"Rifky, saya mencintaimu, tapi saya tak pernah memaksamu untuk meninggalkan Tuhanmu" matanya berkaca-kaca memandangi wajahku dengan sendu.
"Maaf kan... aku... Ay... ( panggilan kesayanganku untuknya) saya kesepakatan tidak akan mengulangi hal terbelakang ini lagi. Aku mencintaimu, kumohon jangan pernah tinggalkan saya lagi."

Kuliah selesai, dan kami pun mengadakan Wisuda. Lize memintaku untuk segera melamarnya, saya pun tak menolak untuk hidup bersamanya. Aku pulang ke Banjarmasin dan berjanji akan kembali tiba untuk melamarnya, sehabis mendapatkan pekerjaan tetap.Tetapi, problem besar justru hadir sehabis kepulanganku. Cintaku ditentang keras oleh orang tuaku. Ayah dan Ibuku ternyata telah menyiapkan jodoh untukku, yaitu putri sahabat Ayah seorang gadis muslimah dari Martapura, Kalimantan Selatan. Wanita salehah yang juga bagus rupanya itu bernama, Ikhma. Aku tidak tertarik dengan perempuan keturunan gadis Banjar-Arab itu. Bagaimana mungkin saya akan senang nantinya, kalau saya harus menikah dan hidup bersama dengan perempuan yang sama sekali tidak saya cintai?

Aku tak berdaya menolak paksaan kedua orang tuaku ,untuk segera menikah dengan Ikhma. Aku juga tak punya kekuatan untuk terlepas dari kuatnya cinta pada perempuan pertama yang hadir di hidupku. Lize, dialah perempuan yang menorehkan cinta teramat dalam di hatiku, yang menyesakan dadaku dengan menghadirkan kenangan manis yang selalu menciptakan saya rindu. Wanita yang sering membuatku menangis alasannya takut kehilangan cintanya. Bagaimana mungkin saya sanggup terlepas begitu saja untuk meninggalkannya? Sementara hatiku telah terkurung dalam penjara cintanya. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyayangi seseorang dalam kebersamaan, lantas melepaskannya begitu saja. Tentunya bukan hal yang gampang untuk kehilangan orang yang teramat dicintai.

****
Rasa berdosa kepada pengantin perempuan di sebelahku, dan kepada perempuan yang sedang menungguku terus memburu ke dalam hatiku. Kusebut nama yang salah dalam proses ijab kabul, yang hasilnya diulang berkali-kali menciptakan Ikhma nampak kecewa kepadaku. Hatiku haru biru. Kesekian kalinya saya menerima bimbingan, hasilnya kata sah keluar dari saksi kedua mempelai. Ikhma, beliau resmi menjadi Istriku.

Setelah selesai shalat Isya berjamaah. Tak ada malam pertama sehabis kami menikah, saya berdalih tak yummy tubuh pada Ikhma. Padahal malam pertama, ialah malam terindah yang selalu ditunggu sepasang pengantin muda. Tapi tidak bagiku, pedih dan sedih mengumpat di dadaku. Ikma buatkan saya secangkir teh hangat dan membujukku untuk makan, saya menolak. Bahkan, saya tak meminum sedikit pun teh yang disiapkannya untukku hingga dingin.

Malam-malam selanjutnya kulakukan tugasku sebagai suami, meskipun ketika melakukannya yang kubayangkan hanya wajah Lize. Wajah itu selalu membayang-bayangi di setiap hariku. Aku yang bekerjsama periang dan penyayang. kini bermetamorfosis eksklusif yang pendiam dan tertutup. Di rumah saya hanya bicara seperlunya, dan kini saya menjadi seorang lelaki yang gampang marah, walau saya tak pernah memukul wanita.

Sedikit saja Ikhma berbuat salah, saya selalu memakinya, memarahinya dengan meledak-ledak dan mengeluarkan kata-kata kasar. Kalaupun beliau tidak salah, saya selalu berusaha mencari-cari kesalahannya. Berulang kali kucoba ingin menceraikannya, selalu tak ada kekuatan untuk melakukannya. Tak ada dukungan dari siapapun, selain hatiku sendiri yang menentang. Pastinya orang renta dan keluargaku akan marah, alasannya mereka menganggap Ikhma perempuan terbaik untuk hidupku dan masa depanku. Meskipun Ikhma sering mendapatkan perlakuan yang tak yummy dariku, ia selau sabar menghadapi tingkahku, walau ia tak mendapatkan hak nya sebagai seorang istri.

Setiap kali saya menghubungi Lize via telpon hatiku terasa sangat sakit, alasannya banyak kebohongan-kebohongan tercipta sehabis saya menikah. Aku, yang bekerjsama telah bekerja di perusahaan besar di Banjarmasin dengan jabatan yang cukup tinggi, mengaku belum mendapatkan pekerjaan tetap. Sehingga, saya belum sanggup menemui Lize ke Palangka untuk memenuhi janjiku yang tertunda, yaitu menikahinya.

Ikhma, bekerjsama ia perempuan yang baik dan cantik, tapi hatiku tak pernah tergerak untuk mengakuinya sebagai istri. Sebelum berangkat ke kantor, Ikhma selalu menyiapkan segala keperluanku. Mulai dari menyiapkan makan, hingga memakaikan sepatu dan jasku. Terkadang, ia juga menuntaskan tugas-tugas kantor yang belum sempat kuselesaikan. Sebelum berangkat kerja ia selalu mencium tanganku dengan lembut, tapi saya tak pernah mengecup keningnya. Aku tahu, ia sangat mengharapkan kelembutan hatiku, merindukan sentuhan hangat juga merindukan kecupan kasih sayang dariku. Layaknya perempuan lain yang mendapatkan kemesraan dari setiap pasangannya.

Sewaktu makan siang pun, ia selalu mengantarkan rantang kuliner nasi rawon kesukaanku, walau tak pernah kusentuh kuliner itu. Saat pulang kerja, saya tak pernah tersenyum menemui istriku yang membukakan pintu dengan dandanan yang cantik, bahkan sudah menyiapkan air hangat untuk mandi sore beserta baju gantiku. Pahitnya, hatiku tak pernah tersentuh. Yang kutahu, apa yang ia lakukan untukku selalu salah di mataku. Aku, tak sanggup membedakan mana yang hitam dan putih lagi., yang kutahu, ia selalu salah dan salah. Walau pun ia benar, di mataku ia tetap salah.
Lize. Aku pun tak punya pilihan lain. Dia, mengancam akan meninggalkanku, bila tidak segera menikahinya.

***
Tak ada perempuan yang ingin dimadu, tapi tak ada juga lelaki yang ingin hidup satu atap dengan perempuan yang tak pernah dicintai. Setiap kali saya memaksa diri untuk berguru mendapatkan Ikhma dalam hidupku, namun apalah daya cinta itu tak pernah terasa ada. Terluka dan terluka, itulah rasa yang telah tertoreh di dalam hatiku. Hanya sakit yang mengganjal didadaku, ketika cinta bicara dengan orang yang salah bukan dari pilihan hati. Akhirnya saya harus berbohong pada Ikhma, akan ada kiprah keluar kota untuk dua bulan ke depan untuk rencana pernikahan keduaku.

''Kuputuskan untuk menikahi Lize dengan cara Islam, walau pun saya telah melanggar aturan dan syariat Islam di dalamnya. Aku juga mengetahui larangan Allah dalam Firman-Nya:
"Dan janganlah kau nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka beriman (masuk islam). Sesungguhnya perempuan budak yang mukmin lebih baik dari perempuan musyrik, walau pun ia menarik hatimu. Dan janganlah kau menikahkan perempuan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik meskipun ia menarik hatimu (Qs : Albaqarah :221).
Benar kata pepatah, sepandai-pandainya topai melompat akan terjatuh juga.

Dua bulan berlalu, saya kembali ke Banjarmasin bukan kaena Ikhma, tapi alasannya tanggung jawab pekerjaanku. Setelah empat bulan kepulanganku dari Palangka, Lize tiba ke rumahku dan bertemu dengan keluarga serta istriku. Ia tiba sebagai istri keduaku yang tidak hanya sendiri, tapi dengan jabang bayi yang ada di rahimnya hasil buah cinta kami. Lize sempat pingsan dua kali ketika saya mengakui kebohonganku, bahwa Ikhma ialah istri pertamaku. Aku membopongnya tubuhnya yang tak sadarkan diri ke kamar. Saat saya dihakimi oleh keluargaku dan istri keduaku, kulihat Ikhma lah yang paling tegar. Tak ada setitik air mata mengalir di wajah sendunya, malahan ia sibuk menenangkan ibuku yang tak henti menangis dan memakiku. Padahal saya tahu, niscaya beliau lah orang yang paling terluka hatinya kala itu.

"Ay, bangkit ay... " Aku menyodorkan segelas air putih dan meminumi Lize yang mulai sadar. Kugenggam erat tangan Lize sambil memeluk erat tubuhnya. Aku tahu, Lize akan murka besar padaku ketika ia tersadar nanti, alasannya saya membohonginya selama ini. Aku sama sekali tidak mempedulikan Ikhma, yang memanadangiku di balik pintu kamar dengan air mata yang menggenang di sudut matanya dari wajahnya nampak kelam dan suram.

Setelah Lize sadar, ia menangis menghambur ke pelukanku sekaligus memukul-mukul dadaku. Dalam pelukanku, kutenangkan ia biar berhenti menangis. Kusuapi ia, biar mau makan. Kubujuk Lize, untuk sanggup memaafkanku. Kuceritakan semua yang terjadi dengan sebenar-benarnya, bahwa pernikahanku dengan Ikhma bukanlah keinginanku. Lize, ia mendapatkan kenyataan itu pastinya juga dengan hati yang sangat terluka. Malam itu, saya tidur dengan Lize. Sementara, saya tidak tahu Ikhma tidur di kamar mana. Yang kutahu, ia tidak mau kukembalikan pada orang tuannya.

Hidup satu atap dengan dua perempuan bukanlah hal yang mudah, apalagi ada orang tuaku yang selalu menyertai di dalamnya. Kesukaran demi kesukaran terjadi. Orang tuaku yang menentang cintaku, terutama ibu, yang selalu menyalahkan Lize sebagai perebut suami orang. Dan konyolnya, ibu percaya kalau saya telah terkena guna-guna (ilmu hitam) dari Lize, gadis keturunan Suku Dayak orisinil sehingga saya tak pernah sanggup melepaskannya.

Lize, ia diperlakukan orangtuaku dengan tidak adil. Seperti apa yang kulakukan kepada Ikhma, begitu juga yang dilakukan orangtuaku pada Lize. Aku mengancam Ibu akan keluar dari rumah, kalau tidak menghormati Lize sebagai istriku. Tentunya Ibu tidak akan rela kalau saya meninggalkannya, alasannya saya anak satu-satunya. Tetapi, ibu juga menciptakan hatiku risau. Ibu mengancamku tak akan memaafkanku, kalau saya tidak membagi cintaku dengan adil kepada dua istri yang keduanya masih sah sebagai istriku. Terutama istri pertamaku, yang selama ini kusia-siakan. Ini hal yang tersulit yang harus kuhadapi. Tak ada perempuan yang ingin digilir cintanya, apalagi dengan keadaan Lize yang sedang hamil muda.

Malam keempat, ketika saya seranjang dengan Ikhma, saya tak sanggup tidur. Bayanganku ada pada Lize yang berbaring di kamar sebelah. Mungkin ia sedang menangis atau kedinginan, alasannya tak ada saya di sampingnya menyelimuti tubuhnya, membelai rambutnya dan mencium keningnya sebelum tidur, hal yang tak pernah kulakukan pada Ikhma. Aku juga tidak tahu perempuan mana yang paling terluka hatinya. Di antara dua perempuan ini hanya satu cinta yang kupunya, tentunya untuk Lize. Entah kapankah, saya akan sanggup menjadi suami yang adil.

"A, saya rela kau madu dan membagi cintaku ,asal jangan kau ceraikan aku..."
Ikhma memohon di hadapanku dengan airmata yang tak dibuat-buat. Aku hanya tertegun mendengar kata-kata itu, rasanya hatiku hampa sekali. Tak ada balasan dariku, alasannya saya memang tak ingin menjawabnya. Dan untuk kesekian kalinya, kutorehkan luka di dadanya dengan caraku yang tak pernah lembut memperlakukannya.

Bahkan, saya lebih sering tidur dengan Lize dari pada dengan Ikhma, kalau tak ada orang tuaku di rumah.
Pada malam selanjutnya yang dulunya tak pernah kukehendaki terjadi juga. Karena ketika itu orang tuaku ada di rumah, saya pun haus bersikap lembut kepada Ikhma. Harusnya saya hanya tidur dengan Ikhma malam itu, tapi alasannya Lize menyampaikan ia sedang tak yummy badan, ia pun meminta untuk tidur bertiga di dalam kamar Ikhma, saya pun tak sanggup menolak. Kulihat Ikhma memalingkan tubuhnya, sehabis saya mengecup kening Lize di hadapannya. Aku gres sanggup tertidur, sehabis Lize ada di sebelah kiriku sambil menenangkanku. Seperti biasa, setiap lewat dari jam satu malam menuju dini hari, Ikhma shalat tahajud. Entah do'a apa yang ia minta pada Allah, hingga air matanya menetes di pipi. Kudengar samar-samar, ia inginkan biar saya sanggup mencintainya dan memberi kasih yang sama, menyerupai orang ketiga yang hadir dalam cinta kami. Wanita yang telah kusakiti untuk kesekian kali, malam itu bagai terlahir menyerupai bidadari surga, walau saya mulai tak mengerti dengan perasaanku. Entah dari mana datangnya, hatiku mulai tersentuh dengan cintanya. Malam itu, saya menggaulinya dengan sepenuh hatiku. Kupandangi wajahnya yang teramat bagus malam itu dengan rasa kasih yang luar biasa.

"Mamah...kau terlihat sangat bagus malam ini sepertinya... aku... telah... jatuh hati... padamu..."
"Katakah sekali lagi A... saya ingin mendengarnya.."
"Mamah, Kau... terlihat... sangat...cantik...malam ini...dan sepertinya... aku..."
Tak sanggup kuteruskan kata-kata itu, mungkin alasannya hatiku agak sedikit tabu untuk mengakuinya. Ikhma menangis senang alasannya terharu, walau saya tak sanggup meneruskan kata-kata selanjutnya. Dan saya tahu, ia sangat ingin mendengar saya melanjutkan kata-kata itu, tapi saya tak bisa. Lidahku terasa kelu, urat leherku terasa kaku, tapi kata-kata itu memang tulus dari hatiku, walau pun sebelumnya saya tak sanggup tidur alasannya terus memikirkan perempuan keduaku. Lize, ia tahu saya tidak hanya sekedar tidur dengan Ikhma, membuatnya sangat cemburu. Seakan, ia tak sanggup mendapatkan dan tak sanggup lagi hidup denganku.

Pagi tiba. Lize, memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Aku merasa terpukul sekali. Aku membujuknya untuk tetap bersamaku sambil meminta maaf, saya juga menjelaskan padanya, apa yang telah saya lakukan tadi malam hanyalah sebuah kekhilafan yang terjadi di luar kendaliku. Aku makin jadi serba salah, Ikhma menangis mendengar kata-kataku, bahwa tadi malam yang kami lakukan hanyalah suatu "kekhilafan." Dan gres kali ini, saya juga peduli pada Ikhma.
Aliran darahku seakan berhenti, ketika Lize meminta saya menceraikannya dan ia akan menggugurkan anakku yang ada di dalam kandunganya. Ia merasa sudah tak tahan hidup denganku, dengan cinta yang tak adil untuknya. Ikhma menuntun Lize masuk ke dalam rumah, untuk bicara baik-baik bertiga. Karena hari itu hari Minggu, hanya ada kami bertiga di rumah. Aku sedang libur kerja, sementara orang tuaku telah berangkat ke luar kota sehabis shalat subuh.

" Lize, jangan kau tinggalkan Mas Rifky, alasannya ia tak sanggup hidup tanpamu ...,"
"Mungkin kau sanggup tegar menghadapi semua ini, tapi saya tidak ! Kau, telah merebut ia dariku. Aku sangat benci padamu ,Ikhma. Juga padamu, Rifky. Mengapa harus ada anak ini di rahimku, sementara kau sakiti saya dengan cintamu"
Lize menangis dengan emosi yang membara...

"Aku, tidak pernah merebut Mas Rifky darimu. Aku, menikah dengan mas Rifky alasannya perjodohan yang tak pernah ku tentang. Jika kutahu beliau milikmu, pastinya saya tak akan mendapatkan perjodohan itu. Ia lelaki pertama di hidupku, yang membuatku terikat dalam tali perkawinan. Ku pikir, dengan adanya ikatan pernikahan akan ada kehidupan cinta di dalamnya, tapi hingga kini saya tak pernah menemui semua itu"
Mata Ikhma berkaca-kaca walau kelihatan nampak tegar.

"Mengapa kau tidak minta cerai darinya Ikhma, bukankah kau tak pernah senang selama hidup dengannya? kau, ialah racun yang mematikan dalam cinta kami"
"Demi Allah Lize, perceraian ialah sesuatu yang dibenci Allah walau diperbolehkan. Mas Rifky, ialah jodoh yang diberikan Allah yang ternyata bukan hanya untukku, tapi juga untukmu.
Untuk kujaga dan kuhormati pangkatnya dalam istana hatiku, yang selalu saya terima setiap perlakuan apa pun darinya dengan Ikhlas. Aku berguru mencintainya, menyerupai Tuhan mencintaiku. Aku tak pernah merasa tersakiti dalam keadaan apa pun, selama saya bersamanya. Mungkin, saya yang belum beruntung dalam menjalani kehidupan cintaku. Kau beruntung, telah mendapatkan cinta yang besar darinya dan mendapatkan keturunan darinya. Aku turut senang dengan semua itu"

"Mengapa kau sanggup setegar ini Ikhma, maafkan saya gres ku sadari, saya lah yang menjadi duri dalam daging untuk kehidupan cintamu, saya akan pergi dari kehidupan kalian.."
"Tidak Lize, kau akan tetap di sini, bersama saya dan Mas Rifky. Iya kan, Mas?''
Aku hanya mengangguk, tak percaya ada perempuan setegar Ikhma di dunia ini. Mungkin, ia ialah bidadari yang benar adanya, dan hatinya serupa dengan malaikat yang tak bersayap?

***
Sembilan bulan berlalu. Saat jam bekerja Ikhma menelponku mengabarkan kado bahagia, yang menciptakan hatiku bersuka cita. Akhirnya, Lize melahirkan sorang putri yang bagus jelita, itu artinya saya telah menjadi seorang ayah.
Kupandangi wajah istriku yang masih lemas di dalam kamar bersalin. Segera saya datangi Lize dan mencium keningnya. Aku meminta Ikhma dan Lize, tetap menjadi istri yang rukun dan ibu yang baik buat anak-anakku nantinya. Dan Ikhma pun, dengan perasaan suka menyetujuinya. Lize juga senang mendengar kabar kehamilan Ikhma, yang ternyata sudah memasuki bulan kedua.

Saat perjalanan pulang ke rumah bersama keluarga besarku. Kulihat senyuman itu manis sekali tengah memangku putri kecilku. Wajah Ikhma terlihat sangat cantik, dan tak bosan-bosan saya memandangnya. Cinta kurasakan hari itu teramat besar padanya, walau bukan terlambat untuk mencintainya. Tetapi setidaknya, saya sempat memberi cintaku padanya melebihi cinta yang kurasakan pada Lize sebelumnya.
Lize, tersenyum ke arahku dengan tatapan bahagia. Bahagia kerana telah menjadi seorang ibu dan sanggup mendapatkan kemelut cinta yang telah kami hadapi bersama. Tapi, tak pernah ku sangka senyuman itu menjadi detik terakhir untuk kunikmati di hari senang dan keindahnya. Tuhan, telah memperlihatkan jalan lain untukku.
Ia mengambil semua keindahan cinta di ketika saya gres mengecap kisah kasih yang sempurna. Sebuah kendaraan beroda empat tiba dari arah pertigaan kota, kemudian bertabrakan dengan kendaraan beroda empat yang kukendarai. Kecelakaan maut itu telah merenggut nyawa istriku yang pertama. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia mengucapakan dua kalimat syahadat dengan fasihnya dan sempat berpesan padaku:
"A Rifky... Kau telah menjadi Ayah. Anak Lize, ialah anakku juga. Jagalah anak kita dan sahabatku, Lize. Jangan pernah kau sakiti hatinya, dan cintailah ia dengan cinta yang seutuhnya. Aku titip mereka padamu..."
"Iya, Mah...” Air mataku mengalir sambil merangkul tubuhnya. Kupeluk dan kuciumi wajahnya yang bersimbah darah di kepala.
"Jangan tinggalkan aku, Mah. Kau perempuan yang kuat... Kau akan sanggup bertahan, Mah..." teriakku dengan airmata yang membanjir.

Tuhan kiranya berkehandak lain. Jodoh, kehidupan, dan kematian, Tuhan lah pemilik dan pengaturnya. Sampai di penghujung nafasnya, ia mengucapkan kalimat syahadat dengan begitu fasihnya. Rohnya melayang pergi meninggalkan jasadnya. Ikhma pun tiada.
Penyesalanku memang tak berguna, tapi setidaknya saya sempat memperlihatkan cinta yang besar padanya kurang lebih satu tahun sebelum kepergiannya, dengan cinta yang tak sanggup kutebus untuk seumur hidupku. Karena sehabis kepergiannya, saya tak pernah sanggup berhenti untuk mencintainya. Dia, memberiku kehidupan sebagai jantung kedua di hidupku. Mungkin kalau ketika itu orang tuaku tidak menjodohkan saya dengan perempuan setegar dia, saya tak akan sanggup bersama kembali dengan orang yang juga sangat kucintai, Lize.

"Jika Lize ialah cinta pertamaku, maka Ikhma telah menjadi cinta terakhirku
Jika Lize ialah cinta matiku, maka Ikhma lah sebagai cinta yang hidup dalam jiwaku
Jika lize ialah cinta suciku, maka Ikhma ialah cinta sejati di hidupku
Dan saya menunggu hari-hari indah itu kembali
Mengharapkan satu ketika nanti...

Aku bertemu dengan anak dan istriku berkumpul kembali, di nirwana yang infinit ..."
Maafkan saya Ikhma... yang tak sempat memberimu cinta, dari separu usiaku yang tertinggal. Semoga, kau diterima di sisi-Nya dan mendapatkan kebahagiaan infinit yang dikelilingi malaikat-malaikat putih yang menghias tidur panjangmu, dengan taman kehidupan busuk surgawi yang tak pernah pudar. Kusimpan cintamu dalam kasih yang infinit di dalam kenanganku. Pertemuan yang kurindukan itu akan ada, sehabis saya menyusulmu.

Aku, menunggu jantung keduaku untuk sanggup segera bersamamu. Kita akan bertemu di sana bersama bawah umur kita. Di sini, kami selalu berdo'a kebaikan untukmu dan selalu merindukanmu. Tidurlah yang damai, dan bersimpuhlah di keharibaan Tuhan yang selalu kau bangakan keagungan-Nya. Semoga, kau telah di tempatkan di nirwana firdaus-Nya. Amiin...

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Pudarnya Pesona Cleopatra ...

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
Kisah Menyentuh : ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, bahwasanya semenjak ada dalan kandungan saya telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana ialah sahabat karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, kalau dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap dia dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, jadinya saya pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu saya harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang tiba begitu saja dan tidak tahu alasannya.

Yang terang saya sudah punya kriteria dan cita-cita tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, sanggup jadi bintang iklan Lux lho, orisinil ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin lantaran saya begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata lingkaran bening khas arab, dan bibir yang merah.

Di hari-hari menjelang pernikahanku, saya berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai jenazah hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana.

Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku ialah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar lantaran saya seorang insan yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang berjulukan Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh.
Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, hirau tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, berguru di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya saya yang tersiksa, Raihanapun mencicipi hal yang sama, lantaran ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin saya belum dewasa, mungkin masih harus berguru berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, saya kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana membisu menunduk, tak usang kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan janji nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas membisu saja, saya harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka lantaran Raihana tetapi lantaran kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup menyerupai orang aneh tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore saya pulang mengajar dan kehujanan, hingga dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang saya berangkat pagi lantaran ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir.
“Mas mandi dengan air panas saja, saya sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, saya eksklusif ke kamar mandi, saya lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas saya buatkan wedang jahe” Aku membisu saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak sanggup kutahan.

Dengan cepat saya berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit bahu dan tengkukku menyerupai yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan membisu saja dong, saya kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”.

” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku menyerupai anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.

Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu saya merebahkan diri di daerah tidur. Kulihat Raihana duduk di dingklik tak jauh dari daerah tidur sambil menghafal Al Alquran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur saya bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan saya perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, saya melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”.

Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 saya tiba ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, manis sekali. Sang ratu mempersilakan saya duduk di dingklik yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa.

” Maafkan saya Mas, menciptakan Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia gres selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya saya merasa sulit hidup bersama Raihana, saya tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum sanggup menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa sanggup dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada program qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan tiba termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita tiba bareng, tidak yummy kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf kalau mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, kemudian perlahan-lahan beranjak meninggalkan saya di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan bunyi parau tercekak dalam tenggorokan.

” Ya Mas!” sahut Hana eksklusif menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia senang dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun saya hirau taacuh dan hirau tak hirau padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya.

Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa saya ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas perilaku dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana saya mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah abang sulung Raihana membawa sejarah gres lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. ”
Selamat tiba pengantin baru! Selamat tiba pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan senang mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa lantaran saya lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Alquran lantas disebut ideal? Ideal bagiku ialah menyerupai Ibnu Hazm dan istrinya, saling mempunyai rasa cinta yang hingga pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum sanggup mempunyai cinta menyerupai yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibentuk kaget oleh perilaku Raihana yang begitu besar lengan berkuasa menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.
Bahkan ia mengaku besar hati dan senang menjadi istriku. Aku sendiri dibentuk pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi perilaku ibuku dan mertuaku yang menyindir perihal keturunan.

” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal saya ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak usang lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, saya tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah insiden itu, saya mencoba bersikap dekat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, saya hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri saya melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis lantaran cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu saya semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap ketika nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya membisu dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit saya menemukan cinta” gumamku.

Dan jadinya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus daerah saya mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika saya harus tetap tinggal dikontrakan.

Ketika saya pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, saya sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya sanggup demikian. Hanya saja saya sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.

Tapi toh bukan problem bagiku, lantaran saya sudah terbiasa ketika kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan saya merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu ketika saya pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, saya merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual.

Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, kemudian menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut.
Malam itu saya benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, saya belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu saya ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi saya mendapat kiprah dari universitas untuk mengikuti pembinaan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya ialah professor bahasa arab dari Mesir.
Aku jadi banyak berbincang dengan dia perihal mesir. Dalam pembinaan saya juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kau sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”.

” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang mengatakan untuk menikah dengan wanita shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melaksanakan langkah yang salah, seandainya saya tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana menyerupai sekarang”. ” Bagaimana itu sanggup terjadi?”. ”

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan lantaran terpesona dengan kecantikanya saya menderita menyerupai ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama abang kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah daerah saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang berjulukan Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia.

Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil menciptakan garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya menentukan yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta semoga asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi eksklusif membeli rumah yang cukup glamor di kota Medan.
Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih sanggup memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan bawah umur terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan tenang dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan sanggup berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat.

Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan kuliner Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.

Jika ada sedikit letupan, maka rumah menyerupai neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang jadinya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir.
Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, saya minta kau ceraikan aku, saya tidak sanggup senang kecuali dengan lelaki Mesir”.

Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia lantaran tak sanggup menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan ialah tak satupun keluarganya yang membelaku.

Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi gosip bohong.
Sejak ketika itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang kemudian saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar dongeng Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan saya berpisah dengannya.
Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar ialah dedikasi dan pengorbanan. Hanya lantaran kemurahan Allah saya mendapatkan istri menyerupai dia.

Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin semoga saya mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, saya menyempatkan ke took baju muslim, saya ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin mengatakan kejutan, semoga dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak eksklusif ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap.

Surat cinta siapa ini, rasanya saya belum pernah menciptakan surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbiï ..ternyata surat-surat itu ialah ungkapan hati Raihana yang selama ini saya zhalimi.
Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah daerah ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan lantaran karunia-Mu yang agung ini, pasti hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam simpulan tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali tiba mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku.

Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, kalau memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia lantaran kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu.
Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.

Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang tiba di hati.

Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu besar lengan berkuasa mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu hingga di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.

Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa bahwasanya yang telah terjadi.
” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”.

”Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf lantaran tidak sanggup membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhoinya” .
Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. ”
Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, saya telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kau tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kau sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan semoga kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Kaprikornus Maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika saya mencicipi cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika saya ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika saya ingin memuliakannya dia telah tiada.
Dia telah meninggalkan saya tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih gres dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah kerikil nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak besar lengan berkuasa menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya lantaran telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Ayah.. Kembalikan Tangan Dita !

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Bismillahir-Rahmanir-Rahim …

Sepasang suami isteri – menyerupai pasangan lain di kota-kota besar meninggalkan bawah umur diasuh pembantu rumah sewaktu bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan elok berusia tiga setengah tahun. Sendirian ia di rumah dan kerap kali dibiarkan pembantunya alasannya yakni sibuk bekerja di dapur. Bermainlah ia bersama ayun-ayunan di atas buaian yang dibeli ayahnya, ataupun memetik bunga dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari ia melihat sebatang paku karat. Dan ia pun mencoret lantai kawasan kendaraan beroda empat ayahnya diparkirkan , tetapi alasannya yakni lantainya terbuat dari marmer maka coretan tidak kelihatan. Dicobanya lagi pada kendaraan beroda empat gres ayahnya. Ya… alasannya yakni kendaraan beroda empat itu bewarna gelap, maka coretannya tampak jelas. Apalagi bawah umur ini pun menciptakan coretan sesuai dengan kreativitasnya.

Hari itu ayah dan ibunya bermotor ke kawasan kerja alasannya yakni ingin menghindari macet. Setelah sebelah kanan kendaraan beroda empat sudah penuh coretan maka ia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari oleh si pembantu rumah.

Saat pulang petang, terkejutlah pasangan suami istri itu melihat kendaraan beroda empat yang gres setahun dibeli dengan bayaran angsuran yang masih usang lunasnya. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini !!!” …. Pembantu rumah yang tersentak engan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih-lebih melihat wajah bengis tuannya.
Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, ia terus menyampaikan ‘ Saya tidak tahu..tuan.” “Kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kamu lakukan?” bentak si isteri lagi.

Si anak yang mendengar bunyi ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja ia berkata “Dita yg menciptakan gambar itu ayahhh.. elok …kan!” katanya sambil memeluk ayahnya sambil bermanja menyerupai biasa.. Si ayah yang sudah hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon di depan rumahnya, terus dipukulkannya berkali-kali ke telapak tangan anaknya . Si anak yang tak mengerti apa apa menagis kesakitan, pedih sekaligus ketakutan. Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya.

Sedangkan Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan eksekusi yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tidak tahu harus berbuat apa… Si ayah cukup usang memukul-mukul ajun dan kemudian ganti tangan kiri anaknya. Setelah si ayah masuk ke rumah diikuti si ibu, pembantu rumah tersebut menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar.

Dia terperanjat melihat telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka-luka dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiramnya dengan air, ia ikut menangis. Anak kecil itu juga menjerit-jerit menahan pedih ketika luka-lukanya itu terkena air. Lalu si pembantu rumah menidurkan anak kecil itu. Si ayah sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu ke majikannya. “Oleskan obat saja!” jawab bapak si anak.

Pulang dari kerja, ia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si ayah konon mau memberi pelajaran pada anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu, meski setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Dita demam, Bu”…jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol aja ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur ia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Dita dalam pelukan pembantu rumah, ia menutup lagi pintu kamar pembantunya.

Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu tubuh Dita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik.. Pukul 5.00 sudah siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Dokter mengarahkan biar ia dibawa ke rumah sakit alasannya yakni keadaannya susah serius. Setelah beberapa hari di rawat inap dokter memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” kata dokter tersebut yang mengusulkan biar kedua tangan anak itu dipotong alasannya yakni sakitnya sudah terlalu parah dan infeksi akut…”Ini sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya maka kedua tangannya harus dipotong dari siku ke bawah” kata dokter itu. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg sanggup dikatakan lagi.

Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si ayah bergetar tangannya menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang bedah, selepas obat bius yang disuntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga keheranan melihat kedua tangannya berbalut kasa putih.
Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. ibu… Dita tidak akan melakukannya lagi…. Dita tak mau lagi ayah pukul. Dita tak mau jahat lagi… Dita sayang ayah..sayang ibu.”, katanya berulang kali menyebarkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya. “Dita juga sayang Mbok Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus menciptakan perempuan itu meraung histeris.

“Ayah.. kembalikan tangan Dita. Untuk apa diambil.. Dita kesepakatan tidak akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Dita mau makan nanti ?… Bagaimana Dita mau bermain nanti ?… Dita kesepakatan tidak akan mencoret-coret kendaraan beroda empat lagi, ” katanya berulang-ulang.
Serasa hancur hati si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung-raung ia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi tiada insan sanggup menahannya. Nasi sudah jadi bubur.
Pada karenanya si anak elok itu meneruskan hidupnya tanpa kedua tangan dan ia masih belum mengerti mengapa tangannya tetap harus dipotong meski sudah minta maaf…Tahun demi tahun kedua orang bau tanah tersebut menahan kepedihan dan kehancuran bathin hingga suatu ketika Sang Ayah tak besar lengan berkuasa lagi menahan kepedihannya dan wafat diiringi tangis penyesalannya yg tak bertepi…, Namun…., si Anak dengan segala keterbatasan dan kekurangannya tersebut tetap hidup tegar bahkan sangat sayang dan selalu merindukan ayahnya..
Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya …

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya yakni telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Kisah Nyata, Dongeng Cinta Dari Orang Yang Sudah Meninggal

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Bismillahir RahmanirRahim ...
Kisah ini merupakan kisah faktual yang saya alami, saya punya pacar ketika saya Kuliah semester pertama di dingklik kuliahku teknik arsitektur, kami begitu dekat, beliau seorang yang sangat baik.

Seorang perempuan yang sangat saya sayangi, begitu juga beliau kepada saya, berselang 2 Tahun kemudian, ketika diperjalanan menuju sebuah kota, beliau pergi sendirian memakai motor angsa yang sering beliau pakai kemana-mana.

Sebelum berangkat beliau sempat sms "aku pergi ya, jaga diri baik-baik" nanti saya kabarin kalo udah sampe sana, ternyata hari itu dan sms itu merupakan sms terakhir beliau untuk saya.

Hari naas itu terjadi pada dirinya, tidak usang dari berangkat sekitar 30 menit diperjalanan dirinya kecelakaan, sebuah kendaraan beroda empat melaju kencang menyerempet, beliau terseret sekitar 10 meter dan terdapat luka besar dibagian kepala, saya pun tidak tau itu terjadi, dengan tenangnya saya masih sempat sms beliau sesudah kecelakaan, dengan bercanda, "iya saya tunggu kau sampai, hati-hati dan baik, jangan lupa kasih kabar ya".

Sudah larut malam tidak ada kabar sedikitpun dari dirinya, saya galau harus melaksanakan apa, saya coba main belakang, itu lantaran rasa prustasi saya yang sudah berlebihan.

Keesokan harinya saya mencoba menelponnya pagi-pagi buta, handphonenya masih saja tidak aktif, saya pasrah kemudian saya berpikir mungkin chargenya tertinggal.

Dia yang waktu itu sudah dibawa kerumah sakit terdekat blom sadarkan diri, disaat saya bertanya dimanakah beliau ?

Siang itu menjelang, saya mencoba jalan-jalan untuk refreshing, tidak usang kemudian ada bunyi sms di handphoneku, yang berisikan "adik imam, reina sudah pergi",. itu merupakan sms dari kakaknya yang sudah bersahabat dengan saya.

saya pun menjawab sms itu dengan simple "iya mbak saya sudah tau kok, kemeren kan beliau pergi".

disaat saya sedang duduk bersama sahabat teman, tidak usang handphone kembali bersuara, ada sms balesan dari kakaknya, "imam reina sudah pergi, dan beliau pergi untuk selamanya". saya kemudian lemas dengan impian kalo pergi untuk selamanya bukan meninggal melainkan pindah rumah.

saya pribadi menelpon, ketika diangkat tidak ada sedikitpun percakapan, selain saya mendengar raung tangisan yang sejadi jadinya. tidak usang saya pingsan.

saya pun sudah sadar ketika saya sudah dirumah, saya tidak tau apa yang terjadi, yang saya tau hanya saya ingin bertemu reina, saya pribadi pergi kerumahnya malam itu, saya melihat sudah ramai orang orang berpeci, saya masih sempat galau apa yang terjadi, ketika saya masuk, saya melihat sebujur jenazah di tengah tengah ruangan tamu rumah itu.

Saya terhenyak, dan saya dengan sekejab mendekat,saya bertanya kepada orang-orang, siapa yang meninggal, dan mereka mengatakn reina,saya berteriak sejadi-jadinya, saya melihat wajah reina yang terdapat goresan-goresan luka, saya tidak sanggup membayangkan lemahnya saya ketika itu.

Seseorang yang sudah sangat usang saya kenal pergi untuk selamanya,saya sadar janjkematian sanggup kepada siapapun, saya, anda dan siapapun, sesuai kehendak dan waktunya.

3 Tahun berselang, saya berulang kali mimpi perihal dirinya, terakhir 5 hari yang kemudian sempurna tanggal 15 oktober saya kembali bermimpi, mimpi yang menyadarkan saya betapa sayang beliau kepada saya, dan menyadarkan saya bahwa apa yang harus kita lakukan di dunia ini lebih baik.

dalam mimpi itu, saya bermimpi menyerupai faktual dan benar-benar terlihat nya, kami bertemu di depan kampus, saya bercerita-cerit a, didalam mimpi itu saya sadar bahwa dirinya sudah meninggal, saya bilang sudah usang kita tidak bertemu ya, "iya sudah hampir 3 tahun ini" jawabnya, saya kangen kau timpal kembali balasan saya.

Saya bertanya, selama 3 tahun didalam kubur apa yang kau lakukan, Dia menjawab dengan santai, tapi ternyata ini yakni peringatan besar untuk saya, dan anda, jawabannya sangat sederhana " mam kalo saya ceritakan apa yang terjadi kepada saya selama 3 tahun didalam kuburan, tidak akan ada lagi kejahatan di dunia".

Siksaan dan eksekusi yang tidak pernah dibayangkan orang yang masih hidup, dan kau berbuat sebaik mungkin sebelum janjkematian dan meninggal menyerupai aku.
Aku pengen hidup sehari saja untuk memperbaiki semua kesalahan aku.
itu kalimat ucapan reina yang menciptakan jantung saya pribadi berdetak.

Tidak usang dalam mimpi itu beliau mau pamit dan pergi, dan yang saya sangat herankan menyerupai sebuah kenyataan, ini menyerupai reka ulang 3 tahun yang lalu, beliau pamit menyerupai disaat ketika kematiannya, beliau bilang baik-baik ya, jaga diri, beliau pergi memakai motor dan pakaian yang sama pada ketika kecelakaan, saya bilang, saya mau ikut, saya tidak mau kau pergi, gak usah ikut aku. tidak usang beliau pergi, saya kejar dan beliau telah menghilang.

saya tersadar dari tidur dan disaat saya tersadar, badan pribadi merinding, tapi sangat segar tidak menyerupai biasanya, saya berpikir mungkin mimpi itu membawa saya kedalam alam lain, lantaran konon 1 hari di dunia, perbandingannya sekian kali lipat di alam sana.

Sampai ketika ini saya masih saya masih sangat terpikir dengan pesan-pesannya, bahwa betapa menyesalnya kita kalau kita tidak berbuat sebaik mungkin di dunia, lantaran kita tidak tau ketika kita sudah meninggal, apa yang akan terjadi dialam sana, supaya dengan dongeng saya ini sanggup menggugah kita.

Mari kita menabung amal ibadah kita dari sekarang, lantaran ketika kita mati sudah tidak ada kesempatan lagi.

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya sudah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Percintaan Perjaka Dengan Perempuan Psk

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Mmmm Kale ini Saya Mau Membahas Tentang Percintaan Akhh ,, hehehe ,,, Disimak Baek" yoo , Baca Semua , No Ringkas , Rame Loch, dijamin !

CEKIDOT

Cerita ini awalnya waktu saya duduk di dingklik Sekolah Menengan Atas kelas III, setahun kemudian … jadi waktu malam ahad saya jalan bedua dengan temen saya yang inisialnya J,cowo . . .

pertama sih keliling-keliling aja.. nah sekitar jam 11, gak tau kenapa temen saya ini ngajak saya ketempat prostitusi, mungkin kalo yang disekitaran kota ***** udah gak ajaib ama yang namanya *****
Sumpah saya gak ada maksud mau main cewe-cewe disana, gak ada niat sama skali.
Saya sih cuman pengen nemenin temen saya ini aja sekalian basuh mata, yaudah ngikut aja …
Udah nyampe dan udah masuk komplek’nya. Jeng Jeng . . . PSK disana ngeliat body saya tinggi , tidak mengecewakan cakep , putih , yaudah deh saya pribadi digoda godain.
*sama saya aja!*
*jangan itu kudisan sama saya aja!*
*eyy ganteng sini dong!*, dll

Saya Terus aja ngikutin temen saya ini, trus beliau brenti disatu rumah, katanya dalam rumah itu cewe’nya cantik-cantik.. yaudah saya suruh beliau cepetan masuk, saya nunggu diluar, sambil duduk dikursi. Bete juga sih saya nunggu’nya sambil maen hape aja, alasannya yaitu saya bukan perokok makanya gak ngrokok sambil nunggu temen.
Naaah sekitar 5 menitan saya nunggu, ada tuh satu PSK nyamperin saya? Lumayan anggun sih untuk ukuran PSK’ gini percakapan kita waktu itu,
Keterangan
TS= Saya
PSK=E ( inisial )

TS:( senyum-senyum..)
E:*ni ( sambil nyodorin rokok)*
TS:*duh saya gak ngrokok hehe..*
E:*yah laki kok gak ngrokok… situ gak main mas ? sama Aku aja ? Yang didalem ini ( sambil nunjuk rumah daerah temen saya main) biasanya usang tuh,

Longtime.. saya lagi butuh uang juga ni..*

TS:* ah enggak, saya nemenin temen doing,, loh emang kau sepi malam ini? Gak ada pelanggan? Kan kau cantik?
E: (sambil ngrokok) * saya lagi ada masalah.*
TS:*masalah apaan?*
E:*perlu situ tau?*
TS:*oh hehe maaf..*

* Hening sekitar 5 menit

E: (rokoknya habis) “kayaknya kau gak brengsek ya?”
TS: “ hah maksudnya ? “
E:” kan semua cowo brengsek? Cuman kau aja tiba kesini gak mau ngeluarin lendir”
TS: “ hehe dapat aja .. tapi gak semua cowo loh gitu, diluaran sana juga banyak cowo baek-baek.. iya takut aja dosa,, belum lagi kalo kena penyakit apaaa gitu.. maaf ya kalo tersinggung hehe..”
E:”ngapain minta maaf, emang bener kok.”
TS:ehm..nama kau siapa?”
E:E**, nama panggilan saya dsni, tapi kalo nama orisinil E*****. Kamu ?
TS:” saya R*** ( nama samara ) .. oh salam kenal ya.. ehmm.. kalo boleh tau kau ada duduk kasus apa sih ampe gak ada pelanggan? Crita aja saya gak bejana kok mulutnya…”

*Obrolan semakin asyik sehabis kenalan*

E:”gak papa males aja cerita.. yang terang saya lagi butuh uang skarang”
TS:”buat?”
E:”buat ibu aku, diperutnya ada kayak benjolan gitu .. sebulan yang kemudian sih udah dibawa ke puskesmas, diagnosa’nya semacam tumor kecil.. disuruh cepet-cepet operasi ke RSU.. tapi ya gitu deh, saya belom punya uang, mana job saya udah sepi lagi huffffttt…”

Subhanallah… saya sempet speechless.. disitu mata saya berkaca-kaca banget dikirain duitnya buat apa.
Ternyata ….

TS:”yah knpa gak bilang daritadi? Aku sih mau aja bantu, tapi kini saya gak pegang uang? Uang saya dirumah..”
E:”capeeedee gak usah ngomong”
TS:”hehe.. emang biayanya berapa?”
E:2 setengah juta.. tapi uang saya ada sejuta doing masih, 2 ahad ini saya kumpulin dikit-dikit.”
TS:”kurang 1,5 ya? Ehmmm gini aja, kau ada nomer hape?”
E:”ada .. buat apa?
TS”ya besok saya ksini lagi, 1,5 saya kasih ke kamu..”
E:”beneran? Tapi gak usah disini, kita janjian ditempat luar aja.”
TS:”okelah.. berapa ? “

Yaudah disitu kita tukeran Nomer hp, terus sdikit-sedikit ngobrol, terus gak usang temen saya keluar sambil benerin bajunya, lehernya kayak abis digigit drakula, terus saya sempet liat cewe’Nya. Beeeuuuh IGO banget ternyata itu komplek untuk yang umurnya dibawah 20’an kata temen saya..!! tapi saya tetep istighfar

-oooOOOooo-

Tibalah hari esok.
Duit saya dirumah cuman 900 ribu, jadi 600 ribu saya bobol tabungan saya diATM, terus sekitar jam 3 siang saya sms dia, tapi katanya besok aja soalnya lagi ada arisan PSK tu komplek, nah ke esokan hari’nya si E sms saya untuk ketemuan di salah satu café, yaudah kita ketemuan….
Setelah kita ketemu ngobrol-ngobrol dikit, sambil saya traktir makan. Saya ajak jalan-jalan, pokoknya seharian saya ma dia, abis itu saya bawa beliau ke pantai ‘bla bla bla’ duduk-duduk sebentar nikmatin angin sepoi-sepoi, trus saya kasih uang itu.. dan saya gak nyangka, beliau pribadi meluk saya sambil ngucap terimakasih..!!! dari suaranya beliau kayaknya mau nangis gitu, wah bulu kuduk saya sempet berdiri sih dipeluk, soalnya gres kali itu yang meluk saya ‘bukan biasa’ yaudah saya peluk balik deh, sambil ngucapin, “iya sama-sama”.. saya nrimo kok bantu ibu kamu.. gak usah kau ganti..”
Dan disitu beliau ngungkapin semuanya, kalo dulu beliau waktu Sekolah Menengah Pertama pernah diperkosa sama bapak tirinya…! Kalo badannya gak gede aja udah saya tabok tu..! tapi sayang tubuh bapak tirinya gede, trus tato’an.

E: “dulu sebelum saya kerja kayak gini, saya ounya pacar, sama-sama satu skolah, dari sekian cowo yang ngejar aku, Cuma beliau yang saya terima, tapi ya gitu deh laki-laki, rata-rata pacaran nyari SEX doang! Makanya saya males namanya cinta-cinta, bullshit..”
TS:”ya tapi gak semua cowo gitu kali..”
E:”pastinya , misalnya kaya yang disamping aku.”
TS: ( saya sempet usang loadingnya, dan sadar ternyata itu saya, yaudah saya ketawa..)”
E:”iissh Yaah Ketawa,. Emang bener.. kau orangnya baik dimata aku.. andaikan kau jadi pendamping aku, senangnya hati ini haha … tapi gak mungkin lah.”
TS:”kok gak mungkin? Kalo saya mau?
E:”haha dasar goblok (noyor kepala saya) ngapain kau mau jadi pacar’nya cewe kotor terus amis lendir kayak saya gini?
TS:”husss kau jangan ngomong kaya gitu lagi.. gak ada kata terlambat loh untuk bersihin hati kamu.. saya suka cewe yang apa adanya kok..”

bla bla bla bla yaudah saya Nyatakan cinta ke E, disitu kita jadian deh..

-oooOOOooo-
esoknya saya nemenin beliau ke RSU ‘bla bla bla’ untuk operasi ibu’nya hampir 4 jam, udah slesai, lega dah.. ibu’nya ngucapin banyak-banyak terimakasih ke saya sambil nangis, saya jadi emosional banget alasannya yaitu di RSU itu bapak tiri’nya E nyamperin saya, mau ngomong 4 mata katanya, saya sempet takut, tapi ternyata apa yang terjadi?
BT ( Bapak Tiri ): “Om dapat ndak minjem duit kamu, 500 ribu aja.. tapi jangan bilang-bilang ke E**.. si E** udah ndak ngasih om uang beberapa hari ini..”
TS:”buat apa om? Kan biaya RS’nya ibu sudah saya bayar?”
BT:” mau bayar utang ke teman, ya bila nda dapat ya nda papa, tapi jangan coba-coba nemuin E** lagi..”
Mau gak mau saya ke ATM lagi ngambil duit itu , bukan untuk bayar utang, tapi untuk main judil paling..

-oooOOOooo-
Sekitar 2 ahad hubungan saya sama E berjalan lancer-lancar aja tuh, tapi hampir tiap malam saya mewek sebetulnya ada satu diam-diam yang E rahasiain ke saya, padahal sebetulnya saya udah tau udah 3 minggu, biaya kehidupannya+keluarga’nya saya yang biayain, soalnya E udah mau brenti kerja gituan beliau juga udah saya suruh sering-sering sholat, ketakutan saya makin besar .. badannya makin kurus.. cekungan mata’nya makin keliatan, sebetulnya E kena penyakit kelamin..

***FLASHBACK***
Waktu malam pertama saya kenal sama E , besoknya saya nyoba-nyoba ke komplek itu lagi, saya ingin tau banget masa PSK secantik E ini gak ada pelanggannya lagi?? Yaudah saya nyoba Tanya ke Desi ( nama sebetulnya ), Desi ini yang maen ama temen saya malam itu, saya kasih beliau 100ribu , trus beliau ungkapin semuanya percakapan kita kira-kira gini:
TS:” si E** itu ada duduk kasus apaan sih kok tadi malam gak ada pelanggannya? Setau saya penghuni disini tiap malam niscaya ada yang booking deh walau cuman 1..”
Desi: kau siapa’nya E**?
TS:”aku temennya doang..”
Desi:ooh..!! ya gitu deh, kena penyakit .. kasian tu anak .. makanya pelanggan pada lari smua, takut ketularan..”
TS:”ha? (muka kaget) maksudnya penyakit apaan??”
Desi:”iyaa beliau itu positif kena sifilis.. sebetulnya sih dapat aja beliau konsumsi penisilin G dari RS, tapi uangnya beliau kumpulin buat biaya kanker ibunya,, itu aja ibu’nya masih gak dapat bangun..”
TS: ( coba tegar ) “oh gitu .. ehmmm E** masih dapat sembuh tapi kan?”
Desi:” kata dokter di puskesmas udah kecil kemungkinan deh, soalnya virusnya udah menjalar, kapan itu beliau meriksa minta temenin aku, makanya saya tau..”
TS:”oh gitu.. yaudah makasih ya infonya? Aku mau pulang..”
Desi:”gak minum dulu?”
TS:”enggak, mau pulang aja.. saya pulang dulu y?”

-oooOOOooo-
Di jalan, sumpah saya speechless banget.. saya mau nangis banget dengernya.. disitu saya bertekad untuk jaga beliau sampe pnyakit beliau sembuh.. gak tau kenapa tiba-tiba saya jadi sayang sama E, gak kaya cowo laen malah lari sesudah tau beliau kena penyakit.. bego gak sih saya ini..???
Terus saya ngeliat beliau makin lemah gitu, saya gak kuat, saya bawa beliau ke RS ya gitu lah, vonis dokter beliau kena sifilis akut, soalnya neurosifilisnya udah nyebar ke sel-sel badannya, dan usang kelamaan bikin tubuh beliau lumpuh, saya sih gak kaget, cuman dia’nya minta maaf ke saya soal’nya gak ngasih tau , jadi ya saya bilang aja kalo saya udah tau dari desi, dan saya sayang ma dia, beliau penyakitan atau apalah saya tetep saying ma dia, dia’nya pribadi nangis meluk saya..
Hampir seminggu dirawat di RS, saya tetep jagain dia, bayangin coba, abis saya UN, saya gak pribadi pulang kerumah, tp pribadi ke RS buat jenguk dia, UN pun saya gak konsen, tapi Alhamdulillah aja lulus dan hasilnya … sempurna tanggal 30 April 2011, E hembuskan nafas terakhirnya di RSU daerah beliau dirawat , sekitar jam 4 sore kalo gak salah. Disitu ada bapak’nya, ibu’nya, temen-temen’ satu komplek’nya . dan tentunya ada saya, saya nangis disitu, saya udah nyangka niscaya hasilnya begini, makanya saya mau bahagiain beliau di ketika terakhir-terakhir hidup beliau kayak komitmen saya pertama, beliau gak dimakamkan dikota itu gan, tapi dibawa ke kota ‘bla blab bla, kampung halamannya, biaya perjalanannya saya yang tanggung, ibu’nya sama-sama orang temennya E satu komplek mbawa ksana, bapak tiri’nya gak ikut, saya gak dapat ikut, soalnya lagi sibuk sibuknya tes SNMPTN waktu itu saya kasihan ama ibu’nya, saya kasih beliau uang saku juga selama diperjalanan, ibu’nya udah gak dapat tinggal di rumah dinas itu lagi, beliau mau ninggalin suami’nya itu, makanya beliau balik ke kampung halamannya, daerah keluarganya disana..
( Kabar terakhir yang saya tau, ibu almh, jualan nasi bungkus disana)

Semua kenangan perihal beliau udah saya hapusin, yang tersisa Cuma surat dari dia, kalung kesayangannya ( skarang saya yang pake, foto beliau di dompet saya, sama cincin…

Penampakan surat,cincin, dan kalung:


Surat itu beliau titip ke Desi, katanya kalo beliau dah meninggal, tolong kasih ke saya, kalo cincin ma kalung saya ambil pas beliau udah mninggal, saya ijin ke mama’nya, kalo foto emang udah usang saya minta dari dia. Pertama saya ngeliat suratnya, surat itu kayak ada bekas titik titik air matanya dan ini beliau nulisnya sebelum masuk RS
Berikut isi suratnya:

To : My Lovely..

Dear ..
Makasih sayang selama ini udah mau jadi pendamping aku..
Makasih juga udah mau jadi malaikat penyelamat untuk ibu aku..
Andaikan kau tau saya punya penyakit gini..
Aku yakin kau niscaya kecewa terus ninggalin aku..
Yakin banget makanya saya ngerahasiain ini semua…
Maaf ya sayang?

Dear..
kau pria paling baik yang pernah saya temuin..
Kamu mau terima saya apa adanya..
Aku wanita kotor, miskin, keluarga semrawut..
Tapi kau tetep mau deket ma aku..

Dear..
Andaikan saya udah gak hidup lagi di dunia ini
Kamu jangan duka ya sayang?
masih banyak wanita yang lebih baik dari aku..
kau orang baik, harus punya pendamping yang baik juga
Inget…!!!!! Jangan lagi datang-datang ke daerah kotor gitu
Setebal apapun dogma kamu…
Pasti dapat runtuh ama yang namanya perempuan

Dear..
Walau dunia kita udah beda..
Aku tetep ada dihati kau kan sayang?
Janji.. saya akan slalu disamping kamu…
Aku akan jaga kamu…
Maaf andai selama ini saya dan keluarga udah nyusahin kamu..

GoodByeeeee Sayang……!!!!!

Your Lovely Bitch, Eva.


PESAN DARI SAYA ( Zaki Aditya ) :
Alhamdulillah , Akhirnya dah selesai juga ngetik ne Artikel , dari jam 4 sampe hampir jam 7 , pegal-pegal ne Tangan … g bsa di Copas seh ini >,< .

Dari Cerita ini , saya ingin memberi pesan yang tersirat kepada Kalian semua :

1. Tidak ada Kata Terlambat Untuk Bertaubat
Allah maha Pengampun , walau qt Punya dosa Sebanyak Seisi Dunia , Kalau kita Sungguh” BertaubatNya insya’allah, akan diterima taubatnya oleh Allah ^_^.
Ingat kan kisah orang yang membunuh 99 orang , eh 100 :D .

2.Jangan Kaprikornus COWO BrengSek Yoo
Ingat Euy , cewe bukan untuk dipermainkan , klw gx bsa nahan untuk pacaran , yaudah pacaran dengan baik , jangan sampe keluar Batas. Ingat pesan dari almh Eva:
Inget…!!!!! Jangan lagi datang-datang ke daerah kotor gitu
Setebal apapun dogma kamu…
Pasti dapat runtuh ama yang namanya perempuan
Bwt Perempuan Juga , jangan SeenakNya aja menciptakan Cowo” jadi Merangsang and bikin nafsu oleh Olahmu juga. ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI