Showing posts with label Recommend For Vha MZ. Show all posts
Showing posts with label Recommend For Vha MZ. Show all posts

- Dongeng Pohon Apel

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
Sebagian dari kita mungkin sudah pernah membaca dongeng ini tapi apa salahnya saya 
muat kembali buat saudara-saudara kita yang belum pernah membaca dongeng ini 
dan sebagai materi review buat yang sudah pernah membaca. Semoga bermanfaat……… 

         Suatu  masa  dahulu,  terdapat  sebatang  pohon  apel  yang  amat  besar.Seorang  kanak-
kanak lelaki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel ini  setiap hari. Dia memanjat 
pohon  tersebut,  memetik  serta  memakan  apel  sepuas-puas  hatinya,  dan  adakalanya  dia 
beristirahat kemudian terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi 
daerah permainannya. 

         Pohon  apel  itu  juga  menyukai  anak  tersebut.  Masa  berlalu…  anak  lelaki  itu  sudah 
besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain 
di  sekitar  pohon  apel  tersebut.  Namun  begitu,  suatu  hari  dia  datang  kepada  pohon  apel 
tersebut dengan wajah yang sedih. 

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. 

“Aku bukan lagi kanak-kanak, saya tidak lagi gemar bermain dengan engkau,” jawab remaja 
itu. 

“Aku mau permainan. Aku perlu uang untuk membelinya,” tambah remaja itu dengan nada 
yang sedih. 

         Lalu  pohon  apel  itu  berkata,  “Kalau  begitu,  petiklah  apel-apel  yang  ada  padaku. 
Juallah   untuk   mendapatkan   uang.   Dengan   itu,   kau   dapat   membeli   permainan   yang 
kauinginkan.” 

         Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel di pohon itu dan pergi dari situ. 
Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih. 

Masa berlalu… 



Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. 

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. 

“Aku tiada waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapat uang. Aku ingin 
membina rumah sebagai daerah proteksi untuk keluargaku. Bisakah kau menolongku?” 
Tanya anak itu. 

“Maafkan  aku.  Aku  tidak  mempunyai  rumah.  Tetapi  kau  boleh  memotong  dahan-dahanku 
yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya.” Pohon apel itu memperlihatkan cadangan. 
Lalu, remaja yang semakin remaja itu memotong ke semua dahan pohon apel itu dan pergi 
dengan  gembiranya.  Pohon  apel  itu  pun  turut  gembira  tetapi  kemudiannya  merasa  sedih 
lantaran remaja itu tidak kembali lagi selepas itu.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki tiba menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya 
yakni anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan 
dewasa. 

“Marilah bermain-mainlah di sekitarku,” ajak pohon apel itu. 

“Maafkan aku, tetapi saya bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku 
sudah  dewasa.  Aku  mempunyai  cita-cita  untuk  belayar.  Malangnya,  aku  tidak  mempunyai 
perahu. Bolehkah kau menolongku?” Tanya lelaki itu. 

“Aku  tidak  mempunyai  perahu  untuk  diberikan  kepada  kau.  Tetapi  kau  boleh  memotong 
batang  pohon  ini  untuk  dijadikan  perahu.  Kau  akan  dapat  belayar  dengan  gembira,”  kata 
pohon apel itu. 

         Lelaki itu merasa amat bangga dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian 
pergi dari situ dengan gembiranya dan tidak kembali lagi selepas itu. 

         Namun begitu, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin di mamah  usia, datang 
menuju pohon apel itu. Dia yakni anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu. 

“Maafkan   aku.   Aku   tidak   ada   apa-apa   lagi   untuk   diberikan   kepada   kau.   Aku   sudah 
memperlihatkan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat 
perahu. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati…” kata pohon apel itu dengan 
nada pilu. 

“Aku tidak mahu apelmu lantaran saya sudah tiada bergigi untuk memakannya, saya tidak mahu 
dahanmu kerana saya sudah bau tanah untuk memotongnya, saya tidak mahu batang pohonmu kerana 
saya tidak berupaya untuk belayar lagi, saya merasa lelah dan ingin istirahat,” jawab lelaki tua 
itu. 

“Jika  begitu,  istirahatlah  di  perduku,”  kata  pohon  apel  itu.  Lalu  lelaki  tua  itu  duduk 
beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis kegembiraan. 

         Tahukah kamu. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam dongeng itu adalah 
kedua-dua ibu bapak kita. Saat kita masih muda, kita suka bermain dengan mereka. Ketika 
kita   meningkat   remaja,   kita   perlukan   bantuan   mereka   untuk   meneruskan   hidup.   Kita 
tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. 
Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melaksanakan apa saja asalkan kita senang dan 
bangga dalam hidup. Anda mungkin terfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap 
pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan bawah umur masa kini 
melayani ibu bapak mereka. 

         Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka semasa 
menyambut hari ibu dan hari bapak setiap tahun.

Allah SWT berfirman : 

“Kami  perintahkan  kepada  manusia  supaya  berbuat  baik  kepada  dua  orang  ibu 
bapaknya,  ibunya  mengandungnya  dengan  susah  payah,  dan  melahirkannya  dengan 
susah  payah  (pula).  Mengandungnya  sampai  menyapihnya  adalah  tiga  puluh  bulan, 
sehingga apabila beliau telah remaja dan umurnya hingga empat puluh tahun ia berdo’a: 
“Ya  Tuhanku,  tunjukilah  aku  untuk  mensyukuri  ni’mat  Engkau  yang  telah  Engkau 
berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya saya sanggup berbuat amal yang 
saleh  yang  Engkau  ridhai;  berilah  kebaikan  kepadaku  dengan  (memberi  kebaikan) 
kepada anak cucuku. Sesungguhnya saya bertaubat kepada Engkau dan  sesungguhnya 
saya termasuk orang-orang yang berserah diri” [Q.S 46:15] 

Belum ada kata terlambat untuk kembali berbakti kepada kedua orang bau tanah kita biarpun 
mereka sudah tidak ada di dunia fana ini…. salah satu kunci supaya senang di dunia dan di alam abadi ialah dengan berbakti kepada Orang Tua. Jika tidak percaya . . . ?? Tes aja sendiri ^_^

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya yakni sudah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Obrolan Perempuan Gaul Dengan Cowok Soleh

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
Seorang perempuan gaul bertanya pada seorang cowok yang soleh:

Wanita: "Kenapa sih kau nggak mau bersentuhan tangan denganku? Emangnya saya ini hina ya?"

Pemuda: "Bukan begitu Mba, Justru saya lakukan itu alasannya ialah saya sangat menghargai Mba sebagai seorang wanita"

Wanita: "Maksudmu?"

Pemuda: "Coba saya tanya sama Mba, apakah boleh seorang rakyat jelata menyentuh tangan putri keraton yang dimuliakan?"

Wanita: (Sambil mengernyitkan dahi) "T..Tentu gak boleh sembarangan dong!"

Pemuda: "Nah, Islam mengajarkan bagaimana kami menghormati semua perempuan layaknya ratu yang ceritakan tadi. Hanya pangeran saja yang layak menyentuh tuan putri".

Wanita: (Sambil agak malu) "Oh.. Terus kenapa sih mesti pakai menutup badan segala, pake kerudung lagi, jadi gak keliatan seksinya"

Pemuda : (Membuka sebuah rambutan, kemudian memakannya sebagian. Dan mengambil sebuah lagi sambil menyodorkan 2 buah rambutan itu pada perempuan tersebut) "Kalau Mba harus memilih, pilih rambutan yang sudah saya makan atau yang masih belum terbuka"

Wanita: (Sambil keheranan dan sedikit merasa jijik) "Hi.. Ya saya pilih yang masih utuh lah, mana mau saya makan bekas Mas".

Pemuda : (Sambil tersenyum) "Tepat sekali, semua orang niscaya menentukan yang utuh, bersih, terjaga begitu juga dengan wanita. Islam mensyariatkan perempuan untuk berhijab dan menutup aurat semata-mata untuk kemuliaan perempuan juga".

Wanita: "Terimakasih ya, saya semakin yakin untuk berhijab dan menutup aurat, Islam memang sangat memuliakan wanita.
Subhanallah. Ngomong-ngomongMas sudah punya pacar belum?"

Pemuda: "Mmm.. Saya belum punya dan bertekad tidak akan punya pacar."

Wanita : (Kebingungan) "Loh, kenapa? Bukannya semua muda-mudi kini punya temen istimewa"

Pemuda: "Begini Mba, kira-kira kalau Mba diberi hadiah handphone, ingin yang bekas atau yang masih baru??"

Wanita: "Ya terang yang gres lah"

Pemuda: "Kalau suatu dikala Mba menikah, mau pakai baju loakan yang harganya Rp.50.000/3 potong atau gaun istimewa yang harganya Rp.20 juta keatas"

Wanita: "Ih.. Mas ini. Ya niscaya saya pilih gaun istimewa, mana mau saya pakai baju loakan, udah bekas dipegang orang, gak steril lagi. hi..."

Pemuda: "Nah, begitu juga Islam memandang pacaran Mba. Kami, diajarkan untuk menjunjung ikatan suci berjulukan pernikahan. menjadi pasangan yang saling menyayangi karenaNya. Yang menjaga kesucian dan kehormatan dirinya sebelum janji suci itu terucap. Karena kami hanya ingin mempersembahkanyang terbaik untuk pasangan kami kelak"

Wanita: (Hatinya berdebar-debar tak menentu, kata-kata cowok tadi menjadi embun bagi hatinya yang selama ini hampa. Matanya pun menetes) "Mas, saya semakin merasa banyak dosa. Masihkah ada pintu taubat untukku dengan semua yang sudah saya lakukan?"

Pemuda: (Matanya berbinar, perkataannya berat) "Mba, jikalah diibaratkan seorang musafir kehilangan unta beserta makanan dan minumannya di gurun pasir yang tandus. Maka kebahagiaan Allah mendapatkan taubat hambanya lebih besar dari kebahagiaan musafir yang menemukan untanya kembali. Kalaulah kita tiba dengan membawa dosa seluas langit, Allah akan mendatangi kita dengan ampunan sebesar itu juga. Subhanallah".

Wanita: (Berderai air matanya, segera ia usap dengan tisunya) "Terimakasih Mas, saya banyak mendapatkan pencerahan hidup. Semoga saya sanggup berubah lebih baik”

Pemuda: “Aamiin”

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya ialah telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Pertanyaan Asing Di Ujian Akhir

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Ini kisah perihal salah seorang mahasiswa yang sedang menuntaskan kuliah semester tamat di sebuah Universitas Negeri. Sebut saja namanya Adam, beliau mengambil jurusan disebuah fakultas yang cukup favorit, yaitu Fakultas Kedokteran. Menurut keyakinannya, fakultas inilah yang sanggup menciptakan hidupnya lebih baik di masa mendatang. Bukan kehidupan yang hanya baik untuknya, tetapi juga untuk keluarganya yang telah berusaha susah payah mengumpulkan uang, supaya ia sanggup meneruskan dan lulus dari kuliahnya dengan baik.

Kakaknya perempuannya pun rela untuk tidak menikah tahun ini, alasannya yaitu harus menyisihkan sebagian gajinya untuk membiayai kiprah tamat dan biaya-biaya laboratorium serta praktikum yang cukup tinggi untuk Adam.

Kini tiba saatnya Adam harus mengikuti ujian semester akhir, mata kuliah yang diberikan oleh dosennya cukup unik. Saat itu sang dosen ingin memperlihatkan pertanyaan-pertanyaan ujian secara lisan, dengan alasan supaya sang dosen bisa erat dengan mahasiswa.

Satu per satu pertanyaan pun beliau lontarkan, para mahasiswa berusaha menjawab pertanyaan itu semampu mungkin dalam kertas ujian mereka.


Ketakutan dan ketegangan Adam ketika ujian terjawab ketika itu, pasalnya 9 pertanyaan yang dilontarkan oleh sang dosen tidak mengecewakan gampang untuk dijawab olehnya. Jawaban demi tanggapan pun dengan lancar ia tuliskan di lembar jawabannya.

Hingga sampailah pada pertanyaan ke-10.“Ini pertanyaan terakhir.” kata dosen itu.

“Coba tuliskan nama bapak bau tanah yang setia membersihkan ruangan ini, bahkan seluruh ruangan di gedung Jurusan ini !” kata sang dosen sambil menggerakkan tangannya menunjuk keseluruh ruangan kuliah.

Mendengar perkataan sang dosen menyerupai itu, sontak saja mahasiswa seisi ruangan pun tersenyum dan tertawa kecil. Mungkin mereka menyangka ini hanya gurauan, terperinci pertanyaan ini tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang sedang diujikan kali ini, pikir Adam dalam benaknya.

“Ini serius !” kata sang dosen yang sudah agak bau tanah itu dengan tegas. “Kalau tidak tahu mending dikosongkan aja, jangan suka mengarang nama orang ! ”. lanjutnya mengingatkan.

Adam tahu persis siapa orang yang ditanyakan oleh dosennya itu. Dia yaitu seorang bapak tua, orangnya agak pendek, rambut putih alasannya yaitu beruban. Dan ia juga mungkin satu-satunya cleaning service di gedung jurusan kedokteran kawasan Adam kuliah. Bapak bau tanah itu selalu ramah serta amat sopan dengan mahasiswa-mahasiswi di sana. Ia senantiasa menundukkan kepalanya ketika melewati kerumunan mahasiswa yang sedang nongkrong. Tapi satu hal yang menciptakan Adam merasa konyol, justru ia tidak hafal nama bapak bau tanah tersebut !!! Dan dengan terpaksa ia memberi tanggapan ‘kosong’ pada pertanyaan ke-10 ini. Ujian pun berakhir, satu per satu lembar tanggapan pun dikumpulkan ke tangan dosen.

Sambil menyodorkan kertas jawaban, Adam mencoba memberanikan diri bertanya kepada dosennya kenapa ia memberi ‘pertanyaan aneh’ itu, serta seberapa pentingkah pertanyaan itu dalam ujian kali ini ?.

“Justru ini yaitu pertanyaan terpenting dalam ujian kali ini” kata sang dosen.

Mendengar tanggapan sang dosen, beberapa mahasiswa pun ikut memperhatikan ketika dosen itu berbicara. “Pertanyaan ini mempunyai bobot tertinggi dari pada 9 pertanyaan yang lainnya, bila Anda tidak bisa menjawabnya, sudah niscaya nilai Anda hanya C atau D,” ungkap sang dosen.

Semua berdecak, Adam pun bertanya kepadanya lagi, “Kenapa Pak ? Kan soal nomor 10 ini tidak ada hubungannya dengan pelajaran kita?” Jawab sang dosen itu sambil tersenyum, “Siapa bilang tidak ada hubungannya, hanya yang peduli pada orang-orang di sekitarnya saja yang pantas jadi dokter. Kalau seorang dokter tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya, bagaimana beliau bisa menolong dan berkhasiat bagi orang banyak?” Lalu sang sang dosen pergi membawa tumpukan kertas tanggapan ujian itu sambil meninggalkan para mahasiswa dengan wajah yang masih tertegun.

Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa kita harus peduli dan memperhatikan orang-orang di sekitar kita. Peduli merupakan langkah awal untuk menjadi pemberi manfaat bagi orang lain serta penyelesai kasus di masyarakat. Dan peduli, sudah seharusnya menjadi milik semua orang, bukan hanya dokter. Jadi, soal ujian nomor ke-10 di atas, kiranya juga menjadi soal ujian untuk kita semua. Maka seberapa pedulikah kita? sehingga bisa menjawab persoalan-persoalan yang ada disekitar kita. Semoga dongeng di atas menjadi nasihat untuk kita.

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya yaitu telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Keluhan Seorang Istri

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Ummi : "Abi…belikan Ummi mesin basuh donk…Abi ganteng dech… (merayu mode : ON)"

Abi : "Waduh Ummi…! Mesin basuh bagi Abi masih termasuk barang mewah…Ummi kan tau sendiri, jika pendapatan Abi masih pas2an untuk memenuhi kebutuhan kita…"

Ummi : (manyun)

Abi : "Tuh kan pribadi berubah wajahnya…entar cantiknya hilang lho… Ummi sejak bergaul akrab dengan tetangga sebelah jadi banyak perubahan, jadi banyak seruan ke Abi."

Ummi : "Ihh Abi su'udzhan aja! Ummi minta mesin basuh bukan lantaran terpengaruh tetangga sebelah, tapi lihat nih tangan Ummi…"



Abi : "Hah…? Kenapa dengan tangan Ummi? Gak ada yang berubah…masih tetap dua…"

Ummi : "Jah Abi…jumlahnya memang masih tetap dua, tapi tangan Ummi sudah tidak halus lagi menyerupai dulu… tangan Ummi sudah berubah jadi kasar…Inilah tanggapan dari mencuci baju dengan tangan langsung, belum lagi mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus bawah umur hingga mengurus ladang kita…hiks…hiks…"

Abi : "Memang jika tangan Ummi garang kenapa?"

Ummi : "Ummi malu…setiap bersalaman dengan teman-teman Ummi, mereka selalu melihat tangan Ummi dan bertanya ada apa, lantaran tangan mereka tidak sekasar tangan Ummi, tangan mereka halus-halus."

Abi : "Hehehe…Insya Allah nanti Abi berikan yang lebih baik dari mesin cuci, Ummi mau??"

Ummi : "Hah? benarkah Abi??? (girang dengan mata berkaca-kaca)"

Abi : "Benar…Insya Allah…"

Ummi : "Apakah itu Abi? Pembantu buat Ummi??"

Abi : "Bahkan lebih baik dari pembantu…(senyum dengan wajah penuh rahasia)"

Ummi : "Wah…masya Allah…Apa itu Abi? (tambah terharu)"

Abi : "Yaitu…Ucapkanlah setiap selesai sholat fardhu, Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, Allahu Akbar 10 kali. Apabila hendak tidur, maka bacalah Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali. Hal itu lebih baik bagi Ummi daripada mesin cuci, bahkan dari seorang pembantu."

Ummi : "Itu mah Ummi sudah tahu Abi…(kembali manyun)"

Abi : "Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya? hehehe… Jangan menganggap remeh amalan ini lho…Ummi tahu sebabnya hadits ini ada (asbabul wurud-nya)?"

Ummi : "Belum tahu…apa?"

Abi : "Baik abi ceritakan..Sesungguhnya Fathimah radhiyallahu 'anha (putri Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) mengeluhkan tangannya (yang garang dan sakit) tanggapan penggilingan (yang digerakkan tangannya). Sedangkan pada ketika itu terbetik gosip bahwa didatangkan tawanan perang (budak) kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Maka, bertolaklah Fathimah untuk menemui Nabi shalallahu 'alaihi wasallam (dengan maksud bisa meminta budak untuk dijadikan pembantu di rumahnya). Namun, ternyata dia tak bertemu Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Dia bertemu Aisyah radhiyallahu 'anha. Diungkapkanlah apa yang menjadi impian hatinya kepada Aisyah. Maka, ketika Nabi shalallahu 'alaihi wasallam tiba, Aisyah mengabarkan perihal hal itu kepada beliau. Kemudian Nabi shalallahu 'alaihi wasallam mendatangi mereka berdua. Saat ditemui, mereka berdua tengah berbaring di daerah tidur. "Tetaplah kalian di daerah " kata Nabi shalallahu 'alaihi wasallam. Lantas dia duduk di antara keduanya (Ali dan Fathimah). Kata Ali, "Hingga saya rasakan dinginnya kedua kaki Beliau di perutku." Lalu Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Maukah saya ajari kalian berdua perihal sesuatu yang lebih baik dari (pembantu) yang kalian berdua minta? Apabila kalian berdua telah mendapati daerah pembaringan (menjelang tidur), hendaknya bertakbir (mengagungkan-Nya) 33 kali, bertasbih (menyucikan-Nya) 33 kali, dan bertahmid (memuji-Nya) 33 kali. Maka, itu (semua) lebih baik daripada seorang pembantu.' (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Berkenaan hadits di atas, Al-Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani menjelaskan, bahwa dengan membiasakan berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla pasti akan diberikan kekuatan yang lebih besar dibanding kekuatan yang bisa dikerjakan oleh seorang pembantu. Atau (dengan membiasakan berdzikir kepada Allah) akan mempermudah urusan. Sekiranya terjadi seseorang diberi bermacam-macam urusan, dengan (dzikir) itu akan lebih memudahkan dibanding diberi seorang pembantu kepadanya. Yang jelas, kandungan hadits di atas mempunyai maksud betapa manfaat tasbih (menyucikan Allah) dikhususkan terhadap kampung akhirat, sedangkan manfaat adanya pembantu khusus menggapai (apa yang ada) di dunia saja. Padahal alam abadi itu lebih baik dan lebih infinit adanya. (Fathul Bari, Bab 'Amalil Mar`ah fi Baiti Zaujiha, klarifikasi hadits no. 5361, 9/484).

Ummi : "Masya Allah.. kisah yang indah sekali…Ummi jadi malu, Ummi mengaku mengikuti Salaf (generasi terbaik terdahulu), namun kepribadian Ummi masih sangat jauh dibandingkan dengan para Salaf."

Abi : "Benar Ummi…Lihatlah Putri Rasulullah, Fathimah radhiyallahu anha, tangan Beliau hingga garang dan sakit lantaran harus menarik penggilingan yang berat setiap hari, juga mengambil air dengan qirbah dan dipikulnya hingga membekas di pundaknya, dan menyapu rumah hingga kotor pakaiannya. Suaminya (Ali bin Abi Thalib) ialah orang yang fakir, sehingga tidak sanggup mencarikan pembantu yang akan membantu pekerjaan Fathimah yang melelahkan."

Ummi : "Tapi abi…kalau tangan Ummi kasar, Ummi khawatir rasa cinta Abi ke Ummi akan berkurang."

Abi : "Justru Ummi tidak perlu khawatir, dengan beberapa alasan. Pertama, Ummi sudah laris bukan? Sudah jadi Istri Abi. Kalau belum laku, Ummi boleh khawatir. Kedua, Abi malah tambah rasa cinta Abi ke Ummi, bukan malah berkurang, lantaran itulah bukti dan saksi bahwa Ummi ialah Ibu rumah tangga yang sejati. Kasarnya tangan Ummi bisa dijadikan bukti dan saksi nanti di alam abadi -Insya Allah- bahwa Ummi telah melakukan tugas-tugas Ummi dengan sebaik-baiknya."

Ummi : "Insya Allah Abi.. (terharu dan mata berkaca-kaca). Tapi Abi akad ya??"

Abi : "Janji apa Ummi?"

Ummi : "Abi tidak bisa beliin Ummi mesin cuci, dan Ummi ridha akan hal itu… tapi Abi juga jangan punya niat untuk ta'addud (poligami) ya? Masak ta'addud mampu,bsedangkan beli mesin basuh tidak mampu?!"

Abi : "Glekk!!…(keselek)"

Sedikit selingan yach.....salam santunku_____^_^
Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya lantaran telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Sosok Khadijah Di Tamat Zaman

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Amanat buat para istri

Pesan isteri ‘Auf bin Muslim Ashaibani kepada puterinya yang akan menikah dengan al Haris bin Amr, raja negeri Kandah.

“Wahai anakku! Kalaulah wasiat ini untuk kesempurnaan adabmu, saya percaya kau telah mewarisi segala-galanya, tetapi ia sebagai peringatan untuk yang lalai dan panduan bagi orang yang memakai akal.

Andai kata perempuan tidak memerlukan suami alasannya yaitu berasa cukup dengan kedua ibu bapanya, tentu ibumu yaitu orang yang paling berasa cukup tanpa suami. Tetapi perempuan diciptakan untuk lelaki dan lelaki diciptakan untuk wanita.



Wahai puteriku, Sesungguhnya engkau akan meninggalkan rumah daerah kau dilahirkan dan kehidupan yang telah membesarkanmu untuk berpindah kepada seorang lelaki yang belum kau kenal dan sobat hidup yang baru.

Kerana itu, jadilah 'hamba' perempuan baginya, tentu beliau juga akan menjadi 'hamba' lelaki bagimu serta menjadi pendampingmu yang setia. Peliharalah sepuluh sifat ini terhadapnya, tentu ia akan menjadi perbendaharaan yang baik untukmu:

Pertama dan kedua, berkhidmat dengan rasa puas serta taat dengan baik kepadanya.

Ketiga dan keempat, memerhatikan daerah pandangan matanya dan wangi yang diciumnya. Jangan hingga matanya memandang yang tidak bagus daripadamu dan jangan hingga beliau mencium wangi yang bau daripadamu.

Kelima dan keenam, memerhatikan waktu tidur dan waktu makannya, alasannya yaitu lapar yang berlarutan dan tidur yang terganggu sanggup menimbulkan rasa marah.

Ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dan memelihara kehormatan serta keluarganya. Perkara pokok dalam problem harta yaitu menciptakan kira-kira dan kasus pokok dalam keluarga yaitu pengurusan yang baik.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan membangkang perintahnya dan jangan membuka rahasianya. Apabila kau mengingkari perintahnya, berarti kau melukai hatinya. Apabila kau membuka rahasianya kau tidak akan selamat daripada pengkhianatannya.

Kemudian janganlah kau bergembira di hadapannya saat beliau bersedih atau bersedih di hadapannya saat beliau berseronok.

Jadilah kau orang yang sangat menghormatinya, tentu beliau akan sangat memuliakanmu.

Jadilah kau orang yang selalu sekata dengannya, tentu beliau akan sangat belas kasihan dan sayang kepadamu.

Ketahuilah, sebenarnya kau tidak akan sanggup apa yang kau inginkan sehingga kau mendahulukan kehendaknya daripada keredaanmu, dan mendahulukan kegembiraannya daripada kesenanganmu, baik dalam hal yang kau sukai atau yang tidak kau senangi dan Allah niscaya memberkatimu.”

..::Kitab al-Bayan wa'l-Tabyin oleh al-Jahiz::.. ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Cerita Cinderella Versi Islam

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
CINDERELLA MUSLIMAH



Di negeri yang diperintah oleh seorang raja yang alim dan adil, tinggallah seorang anak yatim piatu berjulukan cinderella. sehabis maut ayahnya, ia tinggal bersama ibu tirinya dengan dua saudara kandungnya. cinderella yaitu anak yang suka bekerja keras dan membantu ibunya. ia tidak pernah merasa aib melaksanakan pekerjaan rumah ibarat memasak, mencuci dan membersihkan rumah. cinderella juga seorang anak gadis yang sangat pemalu sampai jarang keluar rumah, alasannya ia sering mendengar nasehat dari ibu tirinya bahwa perempuan yang baik yaitu perempuan yang jarang dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.

Pada suatu ketika, sang pangeran putra mahkota menyatakan keinginannya untuk menikah. umurnya yang telah sampaumur dan keilmuwan yang cukup membuatnya ingin segera menggenapkan imannya. maka ditanyakanlah kepada raja perihal calon pasangan yang pantas baginya.


Sang raja pun menjawab..
"Wahai anakku, sebarkanlah pengumuman kepada penduduk kerajaan semoga setiap malam mematikan lampu jika telah tidur. jangan tidur kecuali dalam kondisi mematikan lampu. kemudian engkau carikanlah kamar-kamar yang masih bersinar lampunya diatas jam 12 malam. cari pula alasan secara rahasia mengapa sang pemilik kamar belum mematikan lampu diatas jam 12 malam."

Sang pangeran segera mematuhi sabda sang raja. pengumuman pun dikumandangkan dan disebarkan kepelosok negeri, semenjak malam itu, sang pangeran berkeliling-kel­iling kota setiap malam untuk memperhatikan rumah-rumah yang lampunya tetap bersinar diatas jam 12 malam.

Beberapa hari kemudian, ia menemukan hampir semua rumah mematikan lampu diatas jam 12 malam. kecuali rumahnya cinderella.

maka pergilah sang pangeran kerumah cinderella ke esokan harinya dengan menyamarkan diri sebagai utusan kerajaan yang mencoba memberi nasehat.
Dia mengetukkan pintu rumah dan terkejut melihat cinderella membuka pintunya. pakaian sederhanya tidak sanggup menutupi wajahnya yang cantik, ditambah lagi dengan pandangannya yang setia menunduk, menjaga kehormatannya. sejenak sang pangeran terpesona, namun ia cepat kembali ingat tujuan kedatangannya kerumah cinderella.

"Saya yaitu utusan raja yang ingin menanyakan sesuatu."
"Tunggulah sejenak, saya akan panggilkan ibuku." ucap Cinderella dan kemudian segera masuk untuk memanggil ibunya. tidak usang kemudian ibu tirinya keluar dan bertemu dengan pangeran.
"Wahai ibu, apakah engkau telah tahu wacana peraturan mematikan lampu dimalam hari?"
"Sudah wahai utusan raja."

"Jadi, berikanlah alasan, mengapa rumahmu masih menyalakan lampu diatas jam 12 malam?" tanya sang pangeran langsung.
Ibu tirinya bengong sejenak, kemudian menjawab dengan tenang
"Wahai utusan raja, maafkanlah kami. sejujurnya lampu itu berasal dari kamar anakku, cenderella. ia yaitu perempuan yang senatiasa beristirahat sehabis shalat isya dan berdiri diatas jam 12 malam untuk beribadah kepada ALLAH. lampu sengaja tidak kami matikan alasannya kami tidak ingin membiarkan ia melaksanakan ibadah dalam keadaan gelap gulita."
Sang pangeran terkejut mendengar tanggapan dari sang ibu. jarang sekali ia mendapat seorang perempuan muda yang se shalihah cinderella tersebut.

"Apakah ini dilakukannya setiap malam wahai ibu?"
"Hampir setiap malam, kecuali ALLAH telah menghalanginya alasannya kodratnya sebgai wanita."

Kembalilah sang pangeran ke kerajaan dan menceritakan apa yang didengarnya kepada raja. rajapun tersenyum dan berkata.
"Itulah calon istri yang cocok untukmu. dipagi hari ia yaitu seorang istri yang bekerja keras, dimalam hari ia berubah menjadi menjadi bidadari-bidada­ri syurga yang khusyu' dalam ibadah kepada ALLAH. lamarlah ia untukmu, semoga istana kita diterangi oleh keimanannya yang bersinar laksana cahaya yang dipantulkan oleh beling higienis dari noda."

Pangeranpun segera melamar sang cinderella dan kemudian membawanya pindah ke istana. mereka pun hidup berbahagia sampai tamat masa.

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Cintaku Menyerupai Ilmu Tajwid

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Saat pertama kali berjumpa denganmu, saya bagaikan berjumpa dengan saktah, hanya dapat terpana dengan menahan nafas sebentar...

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billaghunnah, terlihat, tapi dianggap tak ada

Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku menyerupai Idzhar,
terang dan terang

Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka kalau saya bertemu dirimu, itu disebut cinta


Sejenak pandangan kita bertemu, kemudian tiba-tiba semua itu menyerupai Idgham mutamaatsilain,­ melebur jadi satu.

Cintaku padamu menyerupai Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya...

Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya menyerupai Qalqalah kubro, terpantul-pantu­l dengan keras

Dan balasannya sehabis usang kita bersama, cinta kita menyerupai Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu

Sayangku padamu menyerupai mad thobi'I dalam quran, buanyaaakkk beneerrrrr....

biar dalam hubunga., kita ini kayak idgham bilaghunnah ya, cuma berdua, lam dan ro'

Layaknya waqaf mu'annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. beliau atau aku?

Meski perhatianku ga terlihat kaya alif lam syamsiah,
cintaku pdmu spt alif lam Qomariah, terbaca jelas...

kau & saya spt Idghom Mutaqooribain..­­­perjumpaan 2 karakter yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya...

Aku harap cinta kita menyerupai waqaf lazim,terhenti tepat diakhir hayat...

Sama halnya dgn Mad 'aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti,sepert­i itulah pandanganku saat melihatmu.

Layaknya karakter Tafkhim, Namamu pun bercetak tebal di fikiranku

Seperti Hukum Imalah yg dikhususkan untuk Ro' saja,begitu juga saya yang hanya untukmu.

Semoga saya jadi yang terakhir untuk kau menyerupai mad aridlisukun ..

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya yakni telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Memperlakukan Wanita Dalam Islam

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Islam Di Hatiku

Lelaki Inggris bertanya: "Kenapa dalam Islam perempuan dihentikan jabat tangan dengan Lelaki?"

Syeikh menjawab: "dapatkah kau berjabat tangan dengan ratu Elizabeth?

Lelaki Inggris menjawab: "Oh tentu tidak boleh! Cuma orang-orang tertentu saja yang sanggup berjabat tangan dengan ratu."

Syeikh tersenyum & berkata: “Wanita-wanita kami (Kaum muslimin) yaitu para ratu, & ratu dihentikan berjabat tangan dengan Lelaki sembarangan (yang bukan mahramnya).”

Lalu lelaki Inggris bertanya lagi, "Kenapa perempuan Islam menutupi badan dan rambut mereka?"


Syeikh tersenyum dan punya 2 coklat, beliau membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. Dia melemparkan keduanya ke lantai yang kotor.

Syeikh bertanya: “Jika saya
meminta Anda untuk mengambil
satu coklat, mana yang Anda
pilih?"

Si Inggris menjawab: "Yang
tertutup...”

Syeikh berkata: “Itulah cara kami
memperlakukan dan melihat
perempuan kami.”

Si Inggris menjawab: "Wow Islam
is Amazing...”

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya yaitu telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Dongeng Kasatmata : Pengorbanan Seorang Suami

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI


Ini kisah saya copas dari sebuah milist.
Setelah saya baca hingga selesai, Subhanallah…telah membuka kembali hati saya, bahwa sangat berartinya suami saya selama ini. Terimakasih cinta…apa yang telah engkau lakukan untuk kami, yaitu usaha yang sangat besar dan mulia. Semoga Allah senantiasa melindungimu, menunjukkan jawaban dan pahala yang sangat besar pula atas pengorbananmu selama ini. SyurgaNya. Amiin…Ya Rabbal’alamiin…

Selasa malam (1 Februari 2005), Setelah hujan lebat mengguyur Jakarta, gerimis masih turun. Saya pacu motor dengan cepat dari kantor disekitar Blok-M menuju rumah di Cimanggis-Depok. Kerja penuh seharian menciptakan saya amat lelah hingga di sekitar tempat Cijantung mata saya sudah benar-benar tidak sanggup dibuka lagi. Saya kehilangan konsentrasi dan menciptakan saya menghentikan motor dan melepas kepenatan di sebuah shelter bis di seberang Mal Cijantung. Saya lihat jam sudah pertanda pukul 10.25 malam.


Keadaan jalan sudah tidak mengecewakan sepi. Saya telpon isteri saya kalau saya mungkin agak terlambat dan saya katakan alasan saya berhenti sejenak.

Setelah saya jawaban menelpon gres saya menyadari kalau disebelah saya ada seorang ibu muda memeluk seorang anak lelaki kecil berusia sekitar 2 tahun. Tampak terang sekali mereka kedinginan. Saya terus memperhatikannya dan tanpa terasa airmata saya berlinang dan teringat anak saya (Naufal) yang gres berusia 14 bulan. Pikiran saya terbawa dan berandai-andai, “Bagaimana kesudahannya kalau yang berada disitu yaitu isteri dan anak saya?”

Tanpa berlama-lama saya dekati mereka dan saya berusaha menyapanya. ” Ibu,ibu,kalau mau ibu boleh ambil jaket saya, mungkin sedikit kotor tapi masih kering. Paling tidak anak ibu tidak kedinginan” Saya segera membuka raincoat dan jaket saya, dan pribadi saya berikan jaket saya.

Tanpa bicara, ibu tersebut tidak menolak dan pribadi meraih jaket saya. Pada ketika itu saya gres sadar bahwa anak lelakinya benar-benar kedinginan dan giginya bergemeletuk.

“Tunggu sebentar disini bu!” pinta saya. Saya lari ke tukang jamu yang tidak jauh dari shelter itu dan saya meminta air putih hangat padanya. an Alhamdulillah, saya justeru mendapat teh manis hangat dari tukang jamu tersebut dan segera saya kembali memberikannya kepada ibu tersebut. “Ini bu,.. kasih ke anak ibu!” selanjutnya mereka meminumnya berdua.

Saya tunggu sejenak hingga mereka selesai. Saya hanya membisu memandangi kemudian lalang kendaraan yang lewat “Bapak, terima kasih banyak, mau menolong saya” sesaat kemudian ibu tersebut membuka percakapan. Ah, tidak apa-apa, ngomong-ngomong ibu pulang kemana? Tanya saya Saya tinggal di tempat Bintaro tapi…(dia menghentikan bicaranya), Bapak pulang bekerja ? dia balas bertanya.

“Ya” jawab saya singkat.

“Kenapa hingga larut malam pak, memangnya anak isteri bapak tidak menunggu? Tanyanya lagi. Saya membisu sejenak alasannya agak terkejut dengan pertanyaannya.

“Terus terang bu, bekerjsama selama ini saya merasa bersalah alasannya terlalu sering meninggalkan mereka berdua. Tapi mau bilang apa, masa depan mereka yaitu bab dari tanggung jawab saya. Saya hanya berharap semoga Allah terus menjaga mereka ketika saya pergi.” Mendengar jawaban saya si ibu terisak, saya jadi serba salah. “Bu, maafkan saya kalau saya salah omong.

Pak kalau boleh saya minta uang seratus ribu, kalau bapak berkenan? Pintanya dengan murung dan sopan. Airmatanya berlinang sambil mengencangkan pelukan ke anak lelakinya.

Karena perasaan bersalah, saya segera keluarkan uang limapuluh-ribuan 2 lembar dan saya berikan padanya. Dia berusaha meraih dan ingin mencium tangan saya, tetapi cepat-cepat saya lepaskan. “ya sudah, ibu ambil saja, tidak usah dipikirkan!” saya berusaha menjelaskannya. “Pak kalau jas hujannya saya pakai bagaimana? Badan saya juga benar-benar kedinginan dan kasihan anak saya” kembali ibu tersebut bertanya dan kini menciptakan saya heran. Saya resah untuk menjawabnya dan juga ragu memberikannya. Pikiran saya mulai bertanya-tanya, Apakah ibu ini berusaha memeras saya dengan apa yang ditampilkannya di hadapan saya? tapi saya entah mengapa saya benar-benar harus meng-ikhlas- kannya. Maka saya berikan raincoat saya dan kali ini saya hanya tersenyum tidak berkata sepatahpun.

Tiba datang anaknya menangis dan semakin usang semakin kencang. Ibu tersebut sangat berusaha menghiburnya dan saya benar-benar resah kini harus berbuat apa? Saya keluarkan handphone saya dan saya pinjamkan pada anak tersebut. Dia sedikit terhibur dengan handphone tersebut, mungkin alasannya lampunya yang menyala. Saya biarkan ibu tersebut menghibur anaknya memainkan handphone saya. Sementara itu saya berjalan agak menjauh dari mereka. Badan dan pikiran yang sudah lelah menciptakan saya benar-benar kembali tidak sanggup berkonsentrasi. Mungkin sekitar 10 menit saya hanya membisu di shelter tersebut memandangi kemudian lalang kendaraan. Kemudian saya putuskan untuk segera pulang dan meninggalkan ibu dan anaknya tersebut. Saya ambil helm dan saya nyalakan motor, saya pamit dan memohon maaf kalau tidak sanggup menemaninya. Saya jelaskan kalau isteri dan anak saya sudah menunggu dirumah. Ibu itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada saya.

Dia meminta no telpon rumah saya dan saya tidak menjawabnya, saya benar-benar lelah sekali dan saya berikan saja kartu nama saya. Sesaat kemudian saya lanjutkan perjalanan saya.

Saya hanya membisu dan konsentrasi pada jalan yang saya lalui. Udara benar-benar terasa cuek apalagi ketika itu saya tidak lagi mengenakan jaket dan raincoat ditambah gerimis kecil sepanjang jalan. Dan ketika hingga di depan garasi dan saya ingin menelpon memberitahukan ke isteri saya kalau saya sudah di depan rumah saya gres sadar kalau handphone saya tertinggal dan masih berada di tangan anak tadi. Saya benar-benar kesal dengan kebodohan saya. Sampai di dalam rumah saya berusaha menghubungi nomor handphone saya tapi hanya terdengar nada handphone dimatikan. “Gila.Saya benar-benar goblok, tidak lebih dari 30 menit saya kehilangan handphone dan semua didalamnya” dengan bunyi tinggi, saya katakan itu kepada isteri saya dan dia agak tekejut mendengarnya. Selanjutnya saya ceritakan pengalaman saya kepadanya. Isteri saya berusaha menghibur saya dan mengajak saya semoga meng-ikhlaskan semuanya. “Mungkin Allah memang menggariskan jalan ibarat ini. Sudahlah sana mandi dan shalat dulu, kalau perlu tambah shalat shunah-nya biar sanggup lebih ikhlas” dia menjelaskan. Saya segera melakukannya dan tidur.

Keesokan paginya saya terpaksa berangkat kerja membawa kendaraan beroda empat padahal hal ini, tidak terlalu saya suka. Saya selalu merasa banyak waktu terbuang kalau bekerja membawa kendaraan beroda empat ketimbang naik motor yang sanggup lebih cepat mengatasi kemacetan. Kalaupun saya bawa motor saya khawatir hujan alasannya kebetulan saya tidak ada cadangan jaket dan raincoat juga sudah saya berikan kepada ibu dan anak tadi malam. Setelah mengantar isteri yang kerja di salah satu bank swasta di sekitar depok saya pribadi menuju kantor tetapi pikiran saya terus melanglang buana terhadap insiden tadi malam. Saya belum benar-benar meng-ikhlaskan insiden tadi malam bahkan sesekali saya mengumpat dan mencaci ibu dan anak tersebut didalam hati dikarenakan telah menipu saya.

Sampai di kantor, saya kaget melihat sebuah bungkusan besar diselimuti kertas kado dan pita berada di atas meja kerja saya. Saya tanya ke office boy, siapa yang mengantar barang tersebut. Dia hanya menjawab dengan tersenyum kalau yang mengantar yaitu supirnya ibu yang tadi malam, katanya bapak kenal dengannya sesudah pertemuan semalam bahkan dia menambahkan kelihatannya dari orang berada alasannya mobilnya mercy yang bagus.

“Bapak menduakan ya, pagi-pagi sudah sanggup hadiah dari perempuan? tanyanya sedikit bercanda kepada saya. Saya hanya tersenyum dan saya menanyakan apakah dia ingat plat nomor kendaraan beroda empat orang tersebut, office boy tersebut hanya menggelengkan kepala..

Segera saya buka kotak tersebut dan “Ya Allah, semua milik saya kembali. Jaket, raincoat, handphone, kartu nama dan uangnya. Yang menciptakan saya terkejut yaitu uang yang dikembalikan sebesar 2 juta rupiah jauh melebihi uang yang saya berikan kepadanya. Dan juga selembar kertas yang tertulis ;

” Pak, terima kasih banyak atas pertolongannya tadi malam. Ini saya kembalikan semua yang saya pinjam dan maafkan kalau saya tidak sopan. Kemarin saya sudah tidak tahan dan mencoba lari dari rumah sesudah saya bertengkar andal dengan suami saya alasannya dia sering terlambat pulang ke rumah dengan alasan pekerjaan. Bodohnya, dompet saya hilang sesudah saya berjalan-jalan dengan anak saya di Mall Cijantung. Sebenarnya saya semalam ingin melanjutkan perjalanan ke rumah abang saya di depok, tetapi saya jadi resah alasannya tidak ada lagi uang untuk ongkos makanya saya hanya berdiam di hate bis itu. Setelah saya bertemu dan melihat bapak tadi malam, saya gres menyadari bahwa apa yang suami saya lakukan yaitu demi cinta dan masa depan isteri dan anaknya juga. Salam dari suami saya untuk bapak. Salam juga dari kami sekeluarga untuk anak-isteri bapak di rumah. Suami saya berharap, biarlah bapak tidak mengetahui identitas kami dan biarlah menjadi pelajaran kami berdua . Oh ya, maaf handphone bapak terbawa dan saya juga lupa mengembalikannya tadi malam alasannya saya sedang larut dalam kesedihan. Terima kasih.

Segera saya telpon isteri saya dan saya ceritakan semua yang ada dihadapan saya. Isteri saya merasa bersyukur dan meminta semoga semua uangnya diserahkan saja ke mesjid terdekat sebagai amal ibadah keluarga tersebut.
From Renungan N Kisah Inspiratif ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Jantung Ke Dua

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

Cerita ini ialah kisah faktual dari sahabatnya sahabatku, yang tidak ingin disebutkan nama aslinya. Ia memintaku untuk menuliskan perjalanan cintanya dalam sebuah cerita. Semoga ini juga menjadi pembelajaran untuk kita semua dan sanggup memetik pesan yang tersirat dari sebuah peristiwa, walau pengalaman yang tiba dari orang lain.

Cinta ialah sesuatu yang lembut dan halus. Mencintai dan dicintai ialah harapan setiap orang, alasannya dengan saling mencintailah kebahagian itu akan tercipta. Mencintai tapi tak dicintai, ialah hal yang masuk akal alasannya cinta ialah perasaan yang tidak sanggup dipaksa. kebahagiaan tak akan terasa ada kalau terjalin dari keterpaksaan. Tapi, bagaimana kalau dua manusia saling mengasihi tetapi salah satunya tersakiti? Masihkah itu sanggup disebut dengan cinta? Silahkan anda temukan jawabannya dalam kisah cinta di bawah ini. "JANTUNG KE DUA"....selamat membaca....

Kisah cinta ini berawal ketika saya mengenalnya lewat memori hujan di sudut kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Setelah pulang kerja, saya terdesak untuk mengikuti mata pelajaran komplemen di kampus. Tetapi naas, motor yang kukendarai dengan kecepatan tinggi jatuh terhempas di jalanan membuatku tak sadarkan diri. Entah bagaimana akhirnya, perempuan itu membawaku ke rumah sakit terdekat.

Tiga hari saya dirawat di sana, beliau lah yang menjagaku, alasannya saya sebatang kara di kota itu. Keluargaku ada di kota sebelah, orang tuaku orisinil warga Banjarmasin dan menetap di sana. Sementara, saya kuliah di Palangkaraya sebagai anak kost dan bekerja di Pall Mall sebagai kasir. Meskipun bekerjsama saya anak orang berada, tetapi saya lebih menentukan hidup mandiri. Kuliah dari hasil pekerjaanku sendiri serta pinjaman beasiswa yang kuterima dari Universitas Palangkaraya. Aku ingin jadi lelaki berdikari biar kelak sanggup berdiri tanpa bergantung pada orang lain, terutama pada orang tuaku sendiri.

"Lize" nama perempuan itu. Senyumnya menggetarkan jiwaku. Wajahnya cantik, secantik hatinya. Satu kata mulai terlahir dari hatiku yang mungkin terlalu cepat. Aku jatuh cinta padanya, ketika pertama kali melihatnya. Gadis bagus itu bernama, Lize Kristiani. Keturunan Chines yang memilik wajah oriental suku Dayak Palangka. Setelah kami saling berkenalan dan bertukar nomer hp saya sangat terkejut, ternyata beliau seorang mahasiswi yang satu kampus denganku. Kondisiku yang belum sembuh betul alasannya luka yang cukup serius membentur tulang kakiku masih terasa pedih kurasakan, membuatku harus dituntun hingga ke dalam mobil.
Lize, mengantarku hingga daerah saya kost ke jalan Krakatau. Mulai ketika itu, saya selalu merasa berhutang kecerdikan padanya.
Setiap hari, kami selalu pulang dan pergi ke kampus bersama. Pertemanan kami berakhir dengan berawalnya kisah cinta. Aku tak sanggup menghindari perasaan ini, semakin saya menjauh darinya, semakin hatiku sakit. Aku telah terpanah busur cintanya, walau sudah beberapa kali kupikirkan untuk menjauhinya, ternyata hanya menciptakan hatiku semakin terluka. Akhirnya, kuputuskan untuk kuteruskan saja cinta ini. Walau kutahu, saya telah salah menentukan tambatan hati. Aku seorang Muslim, dan beliau seorang Kristen.

Lize. Dia sangat mencintaiku, menyerupai itu pula cintaku padanya. Cinta ini lahir begitu saja tulus dari hati, hingga tak ada perempuan lain yang sanggup menggeser posisinya di hatiku. Sekian usang kebersamaanku dengannya, keluarganya pun turut merestui korelasi kami. Mereka juga tahu, kami dari agama yang berbeda. Sudah hampir empat tahun cinta kami terjalin, sudah lebih sepuluh kali saya membujuknya memeluk agama Islam. Tapi, sudah sepuluh kali juga tiap saya memintanya untuk meninggalkan agamanya, beliau malah menentukan untuk tetapkan jalinan cinta yang kami bina. Semua itu menciptakan saya sangat terpukul.

Pernah satu kali beliau tetapkan cinta, kemudian meninggalkanku seminggu ke Jakarta, hatiku sungguh sangat terluka. "Padahal hanya seminggu" Aku, menyerupai orang asing yang terlihat normal. Tak ada satu orang pun yang sanggup membuatku tersenyum. Teman-temanku yang berusaha menghiburku dengan menghadirkan perempuan lain di hadapanku juga tak ada gunanya. Baru kusadari cintaku pada Lize bukanlah cinta biasa.
Aku, kembali mencicipi butir-butir kebahagiaan sehabis ia ada di hadapanku, tiba membawakan segelas lemon tea dan nasi rawon kesukaanku. Dia tahu, saya selalu telat makan. Lize menyuapiku tanpa bicara sepatah kata pun. Airmata mengalir di pipiku meruntuhkan derajat kelelakianku, tapi saya tak peduli itu. Aku pun memeluknya dengan sangat erat dan meminta maaf padanya.

"Rifky, saya mencintaimu, tapi saya tak pernah memaksamu untuk meninggalkan Tuhanmu" matanya berkaca-kaca memandangi wajahku dengan sendu.
"Maaf kan... aku... Ay... ( panggilan kesayanganku untuknya) saya kesepakatan tidak akan mengulangi hal terbelakang ini lagi. Aku mencintaimu, kumohon jangan pernah tinggalkan saya lagi."

Kuliah selesai, dan kami pun mengadakan Wisuda. Lize memintaku untuk segera melamarnya, saya pun tak menolak untuk hidup bersamanya. Aku pulang ke Banjarmasin dan berjanji akan kembali tiba untuk melamarnya, sehabis mendapatkan pekerjaan tetap.Tetapi, problem besar justru hadir sehabis kepulanganku. Cintaku ditentang keras oleh orang tuaku. Ayah dan Ibuku ternyata telah menyiapkan jodoh untukku, yaitu putri sahabat Ayah seorang gadis muslimah dari Martapura, Kalimantan Selatan. Wanita salehah yang juga bagus rupanya itu bernama, Ikhma. Aku tidak tertarik dengan perempuan keturunan gadis Banjar-Arab itu. Bagaimana mungkin saya akan senang nantinya, kalau saya harus menikah dan hidup bersama dengan perempuan yang sama sekali tidak saya cintai?

Aku tak berdaya menolak paksaan kedua orang tuaku ,untuk segera menikah dengan Ikhma. Aku juga tak punya kekuatan untuk terlepas dari kuatnya cinta pada perempuan pertama yang hadir di hidupku. Lize, dialah perempuan yang menorehkan cinta teramat dalam di hatiku, yang menyesakan dadaku dengan menghadirkan kenangan manis yang selalu menciptakan saya rindu. Wanita yang sering membuatku menangis alasannya takut kehilangan cintanya. Bagaimana mungkin saya sanggup terlepas begitu saja untuk meninggalkannya? Sementara hatiku telah terkurung dalam penjara cintanya. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyayangi seseorang dalam kebersamaan, lantas melepaskannya begitu saja. Tentunya bukan hal yang gampang untuk kehilangan orang yang teramat dicintai.

****
Rasa berdosa kepada pengantin perempuan di sebelahku, dan kepada perempuan yang sedang menungguku terus memburu ke dalam hatiku. Kusebut nama yang salah dalam proses ijab kabul, yang hasilnya diulang berkali-kali menciptakan Ikhma nampak kecewa kepadaku. Hatiku haru biru. Kesekian kalinya saya menerima bimbingan, hasilnya kata sah keluar dari saksi kedua mempelai. Ikhma, beliau resmi menjadi Istriku.

Setelah selesai shalat Isya berjamaah. Tak ada malam pertama sehabis kami menikah, saya berdalih tak yummy tubuh pada Ikhma. Padahal malam pertama, ialah malam terindah yang selalu ditunggu sepasang pengantin muda. Tapi tidak bagiku, pedih dan sedih mengumpat di dadaku. Ikma buatkan saya secangkir teh hangat dan membujukku untuk makan, saya menolak. Bahkan, saya tak meminum sedikit pun teh yang disiapkannya untukku hingga dingin.

Malam-malam selanjutnya kulakukan tugasku sebagai suami, meskipun ketika melakukannya yang kubayangkan hanya wajah Lize. Wajah itu selalu membayang-bayangi di setiap hariku. Aku yang bekerjsama periang dan penyayang. kini bermetamorfosis eksklusif yang pendiam dan tertutup. Di rumah saya hanya bicara seperlunya, dan kini saya menjadi seorang lelaki yang gampang marah, walau saya tak pernah memukul wanita.

Sedikit saja Ikhma berbuat salah, saya selalu memakinya, memarahinya dengan meledak-ledak dan mengeluarkan kata-kata kasar. Kalaupun beliau tidak salah, saya selalu berusaha mencari-cari kesalahannya. Berulang kali kucoba ingin menceraikannya, selalu tak ada kekuatan untuk melakukannya. Tak ada dukungan dari siapapun, selain hatiku sendiri yang menentang. Pastinya orang renta dan keluargaku akan marah, alasannya mereka menganggap Ikhma perempuan terbaik untuk hidupku dan masa depanku. Meskipun Ikhma sering mendapatkan perlakuan yang tak yummy dariku, ia selau sabar menghadapi tingkahku, walau ia tak mendapatkan hak nya sebagai seorang istri.

Setiap kali saya menghubungi Lize via telpon hatiku terasa sangat sakit, alasannya banyak kebohongan-kebohongan tercipta sehabis saya menikah. Aku, yang bekerjsama telah bekerja di perusahaan besar di Banjarmasin dengan jabatan yang cukup tinggi, mengaku belum mendapatkan pekerjaan tetap. Sehingga, saya belum sanggup menemui Lize ke Palangka untuk memenuhi janjiku yang tertunda, yaitu menikahinya.

Ikhma, bekerjsama ia perempuan yang baik dan cantik, tapi hatiku tak pernah tergerak untuk mengakuinya sebagai istri. Sebelum berangkat ke kantor, Ikhma selalu menyiapkan segala keperluanku. Mulai dari menyiapkan makan, hingga memakaikan sepatu dan jasku. Terkadang, ia juga menuntaskan tugas-tugas kantor yang belum sempat kuselesaikan. Sebelum berangkat kerja ia selalu mencium tanganku dengan lembut, tapi saya tak pernah mengecup keningnya. Aku tahu, ia sangat mengharapkan kelembutan hatiku, merindukan sentuhan hangat juga merindukan kecupan kasih sayang dariku. Layaknya perempuan lain yang mendapatkan kemesraan dari setiap pasangannya.

Sewaktu makan siang pun, ia selalu mengantarkan rantang kuliner nasi rawon kesukaanku, walau tak pernah kusentuh kuliner itu. Saat pulang kerja, saya tak pernah tersenyum menemui istriku yang membukakan pintu dengan dandanan yang cantik, bahkan sudah menyiapkan air hangat untuk mandi sore beserta baju gantiku. Pahitnya, hatiku tak pernah tersentuh. Yang kutahu, apa yang ia lakukan untukku selalu salah di mataku. Aku, tak sanggup membedakan mana yang hitam dan putih lagi., yang kutahu, ia selalu salah dan salah. Walau pun ia benar, di mataku ia tetap salah.
Lize. Aku pun tak punya pilihan lain. Dia, mengancam akan meninggalkanku, bila tidak segera menikahinya.

***
Tak ada perempuan yang ingin dimadu, tapi tak ada juga lelaki yang ingin hidup satu atap dengan perempuan yang tak pernah dicintai. Setiap kali saya memaksa diri untuk berguru mendapatkan Ikhma dalam hidupku, namun apalah daya cinta itu tak pernah terasa ada. Terluka dan terluka, itulah rasa yang telah tertoreh di dalam hatiku. Hanya sakit yang mengganjal didadaku, ketika cinta bicara dengan orang yang salah bukan dari pilihan hati. Akhirnya saya harus berbohong pada Ikhma, akan ada kiprah keluar kota untuk dua bulan ke depan untuk rencana pernikahan keduaku.

''Kuputuskan untuk menikahi Lize dengan cara Islam, walau pun saya telah melanggar aturan dan syariat Islam di dalamnya. Aku juga mengetahui larangan Allah dalam Firman-Nya:
"Dan janganlah kau nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka beriman (masuk islam). Sesungguhnya perempuan budak yang mukmin lebih baik dari perempuan musyrik, walau pun ia menarik hatimu. Dan janganlah kau menikahkan perempuan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik meskipun ia menarik hatimu (Qs : Albaqarah :221).
Benar kata pepatah, sepandai-pandainya topai melompat akan terjatuh juga.

Dua bulan berlalu, saya kembali ke Banjarmasin bukan kaena Ikhma, tapi alasannya tanggung jawab pekerjaanku. Setelah empat bulan kepulanganku dari Palangka, Lize tiba ke rumahku dan bertemu dengan keluarga serta istriku. Ia tiba sebagai istri keduaku yang tidak hanya sendiri, tapi dengan jabang bayi yang ada di rahimnya hasil buah cinta kami. Lize sempat pingsan dua kali ketika saya mengakui kebohonganku, bahwa Ikhma ialah istri pertamaku. Aku membopongnya tubuhnya yang tak sadarkan diri ke kamar. Saat saya dihakimi oleh keluargaku dan istri keduaku, kulihat Ikhma lah yang paling tegar. Tak ada setitik air mata mengalir di wajah sendunya, malahan ia sibuk menenangkan ibuku yang tak henti menangis dan memakiku. Padahal saya tahu, niscaya beliau lah orang yang paling terluka hatinya kala itu.

"Ay, bangkit ay... " Aku menyodorkan segelas air putih dan meminumi Lize yang mulai sadar. Kugenggam erat tangan Lize sambil memeluk erat tubuhnya. Aku tahu, Lize akan murka besar padaku ketika ia tersadar nanti, alasannya saya membohonginya selama ini. Aku sama sekali tidak mempedulikan Ikhma, yang memanadangiku di balik pintu kamar dengan air mata yang menggenang di sudut matanya dari wajahnya nampak kelam dan suram.

Setelah Lize sadar, ia menangis menghambur ke pelukanku sekaligus memukul-mukul dadaku. Dalam pelukanku, kutenangkan ia biar berhenti menangis. Kusuapi ia, biar mau makan. Kubujuk Lize, untuk sanggup memaafkanku. Kuceritakan semua yang terjadi dengan sebenar-benarnya, bahwa pernikahanku dengan Ikhma bukanlah keinginanku. Lize, ia mendapatkan kenyataan itu pastinya juga dengan hati yang sangat terluka. Malam itu, saya tidur dengan Lize. Sementara, saya tidak tahu Ikhma tidur di kamar mana. Yang kutahu, ia tidak mau kukembalikan pada orang tuannya.

Hidup satu atap dengan dua perempuan bukanlah hal yang mudah, apalagi ada orang tuaku yang selalu menyertai di dalamnya. Kesukaran demi kesukaran terjadi. Orang tuaku yang menentang cintaku, terutama ibu, yang selalu menyalahkan Lize sebagai perebut suami orang. Dan konyolnya, ibu percaya kalau saya telah terkena guna-guna (ilmu hitam) dari Lize, gadis keturunan Suku Dayak orisinil sehingga saya tak pernah sanggup melepaskannya.

Lize, ia diperlakukan orangtuaku dengan tidak adil. Seperti apa yang kulakukan kepada Ikhma, begitu juga yang dilakukan orangtuaku pada Lize. Aku mengancam Ibu akan keluar dari rumah, kalau tidak menghormati Lize sebagai istriku. Tentunya Ibu tidak akan rela kalau saya meninggalkannya, alasannya saya anak satu-satunya. Tetapi, ibu juga menciptakan hatiku risau. Ibu mengancamku tak akan memaafkanku, kalau saya tidak membagi cintaku dengan adil kepada dua istri yang keduanya masih sah sebagai istriku. Terutama istri pertamaku, yang selama ini kusia-siakan. Ini hal yang tersulit yang harus kuhadapi. Tak ada perempuan yang ingin digilir cintanya, apalagi dengan keadaan Lize yang sedang hamil muda.

Malam keempat, ketika saya seranjang dengan Ikhma, saya tak sanggup tidur. Bayanganku ada pada Lize yang berbaring di kamar sebelah. Mungkin ia sedang menangis atau kedinginan, alasannya tak ada saya di sampingnya menyelimuti tubuhnya, membelai rambutnya dan mencium keningnya sebelum tidur, hal yang tak pernah kulakukan pada Ikhma. Aku juga tidak tahu perempuan mana yang paling terluka hatinya. Di antara dua perempuan ini hanya satu cinta yang kupunya, tentunya untuk Lize. Entah kapankah, saya akan sanggup menjadi suami yang adil.

"A, saya rela kau madu dan membagi cintaku ,asal jangan kau ceraikan aku..."
Ikhma memohon di hadapanku dengan airmata yang tak dibuat-buat. Aku hanya tertegun mendengar kata-kata itu, rasanya hatiku hampa sekali. Tak ada balasan dariku, alasannya saya memang tak ingin menjawabnya. Dan untuk kesekian kalinya, kutorehkan luka di dadanya dengan caraku yang tak pernah lembut memperlakukannya.

Bahkan, saya lebih sering tidur dengan Lize dari pada dengan Ikhma, kalau tak ada orang tuaku di rumah.
Pada malam selanjutnya yang dulunya tak pernah kukehendaki terjadi juga. Karena ketika itu orang tuaku ada di rumah, saya pun haus bersikap lembut kepada Ikhma. Harusnya saya hanya tidur dengan Ikhma malam itu, tapi alasannya Lize menyampaikan ia sedang tak yummy badan, ia pun meminta untuk tidur bertiga di dalam kamar Ikhma, saya pun tak sanggup menolak. Kulihat Ikhma memalingkan tubuhnya, sehabis saya mengecup kening Lize di hadapannya. Aku gres sanggup tertidur, sehabis Lize ada di sebelah kiriku sambil menenangkanku. Seperti biasa, setiap lewat dari jam satu malam menuju dini hari, Ikhma shalat tahajud. Entah do'a apa yang ia minta pada Allah, hingga air matanya menetes di pipi. Kudengar samar-samar, ia inginkan biar saya sanggup mencintainya dan memberi kasih yang sama, menyerupai orang ketiga yang hadir dalam cinta kami. Wanita yang telah kusakiti untuk kesekian kali, malam itu bagai terlahir menyerupai bidadari surga, walau saya mulai tak mengerti dengan perasaanku. Entah dari mana datangnya, hatiku mulai tersentuh dengan cintanya. Malam itu, saya menggaulinya dengan sepenuh hatiku. Kupandangi wajahnya yang teramat bagus malam itu dengan rasa kasih yang luar biasa.

"Mamah...kau terlihat sangat bagus malam ini sepertinya... aku... telah... jatuh hati... padamu..."
"Katakah sekali lagi A... saya ingin mendengarnya.."
"Mamah, Kau... terlihat... sangat...cantik...malam ini...dan sepertinya... aku..."
Tak sanggup kuteruskan kata-kata itu, mungkin alasannya hatiku agak sedikit tabu untuk mengakuinya. Ikhma menangis senang alasannya terharu, walau saya tak sanggup meneruskan kata-kata selanjutnya. Dan saya tahu, ia sangat ingin mendengar saya melanjutkan kata-kata itu, tapi saya tak bisa. Lidahku terasa kelu, urat leherku terasa kaku, tapi kata-kata itu memang tulus dari hatiku, walau pun sebelumnya saya tak sanggup tidur alasannya terus memikirkan perempuan keduaku. Lize, ia tahu saya tidak hanya sekedar tidur dengan Ikhma, membuatnya sangat cemburu. Seakan, ia tak sanggup mendapatkan dan tak sanggup lagi hidup denganku.

Pagi tiba. Lize, memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Aku merasa terpukul sekali. Aku membujuknya untuk tetap bersamaku sambil meminta maaf, saya juga menjelaskan padanya, apa yang telah saya lakukan tadi malam hanyalah sebuah kekhilafan yang terjadi di luar kendaliku. Aku makin jadi serba salah, Ikhma menangis mendengar kata-kataku, bahwa tadi malam yang kami lakukan hanyalah suatu "kekhilafan." Dan gres kali ini, saya juga peduli pada Ikhma.
Aliran darahku seakan berhenti, ketika Lize meminta saya menceraikannya dan ia akan menggugurkan anakku yang ada di dalam kandunganya. Ia merasa sudah tak tahan hidup denganku, dengan cinta yang tak adil untuknya. Ikhma menuntun Lize masuk ke dalam rumah, untuk bicara baik-baik bertiga. Karena hari itu hari Minggu, hanya ada kami bertiga di rumah. Aku sedang libur kerja, sementara orang tuaku telah berangkat ke luar kota sehabis shalat subuh.

" Lize, jangan kau tinggalkan Mas Rifky, alasannya ia tak sanggup hidup tanpamu ...,"
"Mungkin kau sanggup tegar menghadapi semua ini, tapi saya tidak ! Kau, telah merebut ia dariku. Aku sangat benci padamu ,Ikhma. Juga padamu, Rifky. Mengapa harus ada anak ini di rahimku, sementara kau sakiti saya dengan cintamu"
Lize menangis dengan emosi yang membara...

"Aku, tidak pernah merebut Mas Rifky darimu. Aku, menikah dengan mas Rifky alasannya perjodohan yang tak pernah ku tentang. Jika kutahu beliau milikmu, pastinya saya tak akan mendapatkan perjodohan itu. Ia lelaki pertama di hidupku, yang membuatku terikat dalam tali perkawinan. Ku pikir, dengan adanya ikatan pernikahan akan ada kehidupan cinta di dalamnya, tapi hingga kini saya tak pernah menemui semua itu"
Mata Ikhma berkaca-kaca walau kelihatan nampak tegar.

"Mengapa kau tidak minta cerai darinya Ikhma, bukankah kau tak pernah senang selama hidup dengannya? kau, ialah racun yang mematikan dalam cinta kami"
"Demi Allah Lize, perceraian ialah sesuatu yang dibenci Allah walau diperbolehkan. Mas Rifky, ialah jodoh yang diberikan Allah yang ternyata bukan hanya untukku, tapi juga untukmu.
Untuk kujaga dan kuhormati pangkatnya dalam istana hatiku, yang selalu saya terima setiap perlakuan apa pun darinya dengan Ikhlas. Aku berguru mencintainya, menyerupai Tuhan mencintaiku. Aku tak pernah merasa tersakiti dalam keadaan apa pun, selama saya bersamanya. Mungkin, saya yang belum beruntung dalam menjalani kehidupan cintaku. Kau beruntung, telah mendapatkan cinta yang besar darinya dan mendapatkan keturunan darinya. Aku turut senang dengan semua itu"

"Mengapa kau sanggup setegar ini Ikhma, maafkan saya gres ku sadari, saya lah yang menjadi duri dalam daging untuk kehidupan cintamu, saya akan pergi dari kehidupan kalian.."
"Tidak Lize, kau akan tetap di sini, bersama saya dan Mas Rifky. Iya kan, Mas?''
Aku hanya mengangguk, tak percaya ada perempuan setegar Ikhma di dunia ini. Mungkin, ia ialah bidadari yang benar adanya, dan hatinya serupa dengan malaikat yang tak bersayap?

***
Sembilan bulan berlalu. Saat jam bekerja Ikhma menelponku mengabarkan kado bahagia, yang menciptakan hatiku bersuka cita. Akhirnya, Lize melahirkan sorang putri yang bagus jelita, itu artinya saya telah menjadi seorang ayah.
Kupandangi wajah istriku yang masih lemas di dalam kamar bersalin. Segera saya datangi Lize dan mencium keningnya. Aku meminta Ikhma dan Lize, tetap menjadi istri yang rukun dan ibu yang baik buat anak-anakku nantinya. Dan Ikhma pun, dengan perasaan suka menyetujuinya. Lize juga senang mendengar kabar kehamilan Ikhma, yang ternyata sudah memasuki bulan kedua.

Saat perjalanan pulang ke rumah bersama keluarga besarku. Kulihat senyuman itu manis sekali tengah memangku putri kecilku. Wajah Ikhma terlihat sangat cantik, dan tak bosan-bosan saya memandangnya. Cinta kurasakan hari itu teramat besar padanya, walau bukan terlambat untuk mencintainya. Tetapi setidaknya, saya sempat memberi cintaku padanya melebihi cinta yang kurasakan pada Lize sebelumnya.
Lize, tersenyum ke arahku dengan tatapan bahagia. Bahagia kerana telah menjadi seorang ibu dan sanggup mendapatkan kemelut cinta yang telah kami hadapi bersama. Tapi, tak pernah ku sangka senyuman itu menjadi detik terakhir untuk kunikmati di hari senang dan keindahnya. Tuhan, telah memperlihatkan jalan lain untukku.
Ia mengambil semua keindahan cinta di ketika saya gres mengecap kisah kasih yang sempurna. Sebuah kendaraan beroda empat tiba dari arah pertigaan kota, kemudian bertabrakan dengan kendaraan beroda empat yang kukendarai. Kecelakaan maut itu telah merenggut nyawa istriku yang pertama. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia mengucapakan dua kalimat syahadat dengan fasihnya dan sempat berpesan padaku:
"A Rifky... Kau telah menjadi Ayah. Anak Lize, ialah anakku juga. Jagalah anak kita dan sahabatku, Lize. Jangan pernah kau sakiti hatinya, dan cintailah ia dengan cinta yang seutuhnya. Aku titip mereka padamu..."
"Iya, Mah...” Air mataku mengalir sambil merangkul tubuhnya. Kupeluk dan kuciumi wajahnya yang bersimbah darah di kepala.
"Jangan tinggalkan aku, Mah. Kau perempuan yang kuat... Kau akan sanggup bertahan, Mah..." teriakku dengan airmata yang membanjir.

Tuhan kiranya berkehandak lain. Jodoh, kehidupan, dan kematian, Tuhan lah pemilik dan pengaturnya. Sampai di penghujung nafasnya, ia mengucapkan kalimat syahadat dengan begitu fasihnya. Rohnya melayang pergi meninggalkan jasadnya. Ikhma pun tiada.
Penyesalanku memang tak berguna, tapi setidaknya saya sempat memperlihatkan cinta yang besar padanya kurang lebih satu tahun sebelum kepergiannya, dengan cinta yang tak sanggup kutebus untuk seumur hidupku. Karena sehabis kepergiannya, saya tak pernah sanggup berhenti untuk mencintainya. Dia, memberiku kehidupan sebagai jantung kedua di hidupku. Mungkin kalau ketika itu orang tuaku tidak menjodohkan saya dengan perempuan setegar dia, saya tak akan sanggup bersama kembali dengan orang yang juga sangat kucintai, Lize.

"Jika Lize ialah cinta pertamaku, maka Ikhma telah menjadi cinta terakhirku
Jika Lize ialah cinta matiku, maka Ikhma lah sebagai cinta yang hidup dalam jiwaku
Jika lize ialah cinta suciku, maka Ikhma ialah cinta sejati di hidupku
Dan saya menunggu hari-hari indah itu kembali
Mengharapkan satu ketika nanti...

Aku bertemu dengan anak dan istriku berkumpul kembali, di nirwana yang infinit ..."
Maafkan saya Ikhma... yang tak sempat memberimu cinta, dari separu usiaku yang tertinggal. Semoga, kau diterima di sisi-Nya dan mendapatkan kebahagiaan infinit yang dikelilingi malaikat-malaikat putih yang menghias tidur panjangmu, dengan taman kehidupan busuk surgawi yang tak pernah pudar. Kusimpan cintamu dalam kasih yang infinit di dalam kenanganku. Pertemuan yang kurindukan itu akan ada, sehabis saya menyusulmu.

Aku, menunggu jantung keduaku untuk sanggup segera bersamamu. Kita akan bertemu di sana bersama bawah umur kita. Di sini, kami selalu berdo'a kebaikan untukmu dan selalu merindukanmu. Tidurlah yang damai, dan bersimpuhlah di keharibaan Tuhan yang selalu kau bangakan keagungan-Nya. Semoga, kau telah di tempatkan di nirwana firdaus-Nya. Amiin...

Note: Artikel ini berasal dari banyak sekali sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya alasannya telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi nrimo menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI

- Pudarnya Pesona Cleopatra ...

LETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI
Kisah Menyentuh : ...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, bahwasanya semenjak ada dalan kandungan saya telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya Raihana ialah sahabat karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo dulu” kata ibu.
“Kami pernah berjanji, kalau dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu” , ucap dia dengan nada mengiba.

Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, jadinya saya pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu saya harus mengorbankan diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang tiba begitu saja dan tidak tahu alasannya.

Yang terang saya sudah punya kriteria dan cita-cita tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak sanggup berbuat apa-apa berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan anggun.

Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami, sanggup jadi bintang iklan Lux lho, orisinil ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain, mungkin lantaran saya begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah, mata lingkaran bening khas arab, dan bibir yang merah.

Di hari-hari menjelang pernikahanku, saya berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai jenazah hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah dengan empat group rebana.

Lantunan shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku ialah mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!

Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya sekedar lantaran saya seorang insan yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir kota Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang berjulukan Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh.
Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, hirau tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang kerja.

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, berguru di luar negeri sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya saya yang tersiksa, Raihanapun mencicipi hal yang sama, lantaran ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak apa-apa koq mbak, mungkin saya belum dewasa, mungkin masih harus berguru berumah tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil ‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, saya kan istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam” jawabku sekenanya.

Dengan mata berkaca-kaca Raihana membisu menunduk, tak usang kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan janji nikah?

Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas membisu saja, saya harus bersikap bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka lantaran Raihana tetapi lantaran kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup menyerupai orang aneh tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.

Suatu sore saya pulang mengajar dan kehujanan, hingga dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang saya berangkat pagi lantaran ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir.
“Mas mandi dengan air panas saja, saya sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih” lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah siap” kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, saya eksklusif ke kamar mandi, saya lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu membawa handuk. “Mas saya buatkan wedang jahe” Aku membisu saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak sanggup kutahan.

Dengan cepat saya berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit bahu dan tengkukku menyerupai yang dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar. “Mas jangan membisu saja dong, saya kan tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas”.

” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. ” Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku menyerupai anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya yang halus.

Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu saya merebahkan diri di daerah tidur. Kulihat Raihana duduk di dingklik tak jauh dari daerah tidur sambil menghafal Al Alquran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.

Dalam tidur saya bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di istananya.” Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan saya perkenalkan denganmu” kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, saya melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”.

Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 saya tiba ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya, manis sekali. Sang ratu mempersilakan saya duduk di dingklik yang berhias berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat Isya” kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa.

” Maafkan saya Mas, menciptakan Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia gres selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

Selanjutnya saya merasa sulit hidup bersama Raihana, saya tidak tahu dari mana sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum sanggup menyukai Raihana. Aku sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa sanggup dijajah pesona gadis-gadis titisan Cleopatra.

” Mas, nanti sore ada program qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan tiba termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita tiba bareng, tidak yummy kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara lembut Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang jahe.

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” Maaf..maaf kalau mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, kemudian perlahan-lahan beranjak meninggalkan saya di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan bunyi parau tercekak dalam tenggorokan.

” Ya Mas!” sahut Hana eksklusif menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia senang dipanggil “dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku sambil menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.

Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti meskipun saya hirau taacuh dan hirau tak hirau padanya selama ini. Aku belum pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah sedihnya ya.

Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa saya ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas perilaku dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana saya mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku sendiri di dunia ini.

Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah abang sulung Raihana membawa sejarah gres lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. ”
Selamat tiba pengantin baru! Selamat tiba pasangan yang paling ideal dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan senang mertua dan bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.

Apanya yang ideal. Apa lantaran saya lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Alquran lantas disebut ideal? Ideal bagiku ialah menyerupai Ibnu Hazm dan istrinya, saling mempunyai rasa cinta yang hingga pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa bahagia.

Tapi diriku? Aku belum sanggup mempunyai cinta menyerupai yang dimiliki Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibentuk kaget oleh perilaku Raihana yang begitu besar lengan berkuasa menjaga kewibawaanku di mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya.
Bahkan ia mengaku besar hati dan senang menjadi istriku. Aku sendiri dibentuk pusing dengan sikapku. Lebih pusing lagi perilaku ibuku dan mertuaku yang menyindir perihal keturunan.

” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal saya ingin sekali menimang cucu” kata ibuku. ” Insya Allah tak usang lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, saya tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah insiden itu, saya mencoba bersikap dekat dengan Raihana. Aku berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, saya hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku sendiri saya melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa. Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin manis.

Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis lantaran cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu saya semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap ketika nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya membisu dan mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit saya menemukan cinta” gumamku.

Dan jadinya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus daerah saya mengajar, mertuaku tak menaruh curiga ketika saya harus tetap tinggal dikontrakan.

Ketika saya pamitan, Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, saya sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa sebabnya sanggup demikian. Hanya saja saya sedikit repot, harus menyiapkan segalanya.

Tapi toh bukan problem bagiku, lantaran saya sudah terbiasa ketika kuliah di Mesir.
Waktu terus berjalan, dan saya merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu ketika saya pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, saya merasa tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan perut mual.

Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, kemudian menyuruhku istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut.
Malam itu saya benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, saya belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu saya ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.

Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus. Apalagi saya mendapat kiprah dari universitas untuk mengikuti pembinaan mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya ialah professor bahasa arab dari Mesir.
Aku jadi banyak berbincang dengan dia perihal mesir. Dalam pembinaan saya juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kau sudah menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan orang mana?. ” Orang Jawa”.

” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak saudara yang mengatakan untuk menikah dengan wanita shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?”.
“Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. ” Kau sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku melaksanakan langkah yang salah, seandainya saya tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu batinku tidak merana menyerupai sekarang”. ” Bagaimana itu sanggup terjadi?”. ”

Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dan lantaran terpesona dengan kecantikanya saya menderita menyerupai ini. Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama abang kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.

Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah daerah saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang berjulukan Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia.

Ternyata perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil menciptakan garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya menentukan yang kedua.

Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi Yasmin.

Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali ke Medan, saya minta semoga asset yang di Mesir dijual untuk modal di Indonesia. KAmi eksklusif membeli rumah yang cukup glamor di kota Medan.
Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih sanggup memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali Yasmin tidak bisa.

Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan bawah umur terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang hidup dengan tenang dan tenang dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan sanggup berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat.

Saya tidak mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan kuliner Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan namanya.

Jika ada sedikit letupan, maka rumah menyerupai neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir.

Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang jadinya mereka tinggal di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir.
Waktu di Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, saya minta kau ceraikan aku, saya tidak sanggup senang kecuali dengan lelaki Mesir”.

Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.

Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia lantaran tak sanggup menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan ialah tak satupun keluarganya yang membelaku.

Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi gosip bohong.
Sejak ketika itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang kemudian saya mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.

Mendengar dongeng Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa sudah dua bulan saya berpisah dengannya.
Tiba-tiba ada kerinduan yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta apapun. Bahkan yang keluar ialah dedikasi dan pengorbanan. Hanya lantaran kemurahan Allah saya mendapatkan istri menyerupai dia.

Meskipun hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin semoga saya mencairkan tabungannya.

Pulang dari pelatihan, saya menyempatkan ke took baju muslim, saya ingin membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin mengatakan kejutan, semoga dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku tidak eksklusif ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap.

Surat cinta siapa ini, rasanya saya belum pernah menciptakan surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan ya Rabbiï ..ternyata surat-surat itu ialah ungkapan hati Raihana yang selama ini saya zhalimi.
Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah daerah ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.

Dan betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan lantaran karunia-Mu yang agung ini, pasti hamba sudah terperosok kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hamba” tulis Raihana.

Dalam simpulan tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa kembali tiba mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak mempedulikanku dan menelantarkanku.

Masih kurang apa rasa cinta hamba padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku padanya? Ya Allah, kalau memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia lantaran kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba sangat mencintainya karena-Mu.
Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.

Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta.

Dalam keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta Raihana yang tiba di hati.

Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu besar lengan berkuasa mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu hingga di halaman rumah mertua, nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku.

Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa bahwasanya yang telah terjadi.
” Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang dikandungnya” . ” Ada apa dengan dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”.

”Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.

Dia meminta maaf lantaran tidak sanggup membuatmu bahagia. Dia meminta maaf telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhoinya” .
Hatiku bergetar hebat. ” kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. ”
Ketika Raihana dibawa ke rumah sakit, saya telah mengutus seseorang untuk menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kau tidak ada. Dihubungi ke kampus katanya kau sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan semoga kami tidak mengganggu ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Kaprikornus Maafkanlah kami”.

Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika saya mencicipi cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika saya ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku. Ketika saya ingin memuliakannya dia telah tiada.
Dia telah meninggalkan saya tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan perasaan bersalah tiada terkira.

Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih gres dikuburan pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah kerikil nisan. Nama dan hari wafat Raihana tertulis disana. Aku tak besar lengan berkuasa menahan rasa cinta, haru, rindu dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia tiba-tiba gelap semua ……..
Wabillahi Taufik Wal Hidayah, ...

Note: Artikel ini berasal dari aneka macam sumber luar milik orang lain, dan maaf saya tak mencantumkan sumbernya lantaran telah lupa & tak tahu akan sumber tersebut.
Semoga pahala amal jariah selalu tercurah kepada pemilik orisinil yang sudah bersusah payah lagi tulus menciptakan artikel ini. Aamiin. 
ETAKKAN KODE ADSENSE YANG SUDAH DI PARSE DI SINI